Musikalisasi Puisi, Penyejuk di Tengah Politik Carut-marut

177
0
MENJIWAI. Personel Sanggar Harsa Singaparna tampil membawakan musikalisasi puisi karya Acep Zamzam Noor berjudul “Mempelai Cahaya” di Rumah Budaya di Kompleks Pendopo Lama, Jumat (8/3).Firgiawan / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Pegiat seni dan budaya Tasikmalaya menghadirkan lomba Musikalisasi Puisi Terbuka 2019 di Rumah Budaya Tasikmalaya di Kompleks Pendopo Lama Jalan RAA Wiratanuningrat, Jumat (8/3). Kegiatan tersebut dijadikan sebagai hiburan penyejuk di tengah konstelasi politik yang memanas.

Panitia pelaksana Ashmansyah Timutiah menerangkan, lomba itu merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan Yayasan Cerdas Nusantara bersama komunitas dan sanggar seni di Tasikmalaya. Sebelumnya, sudah dilaksanakan pameran dan workshop seni rupa yang dihadiri berbagai perupa asal Tasikmalaya. “Ini agenda lanjutan dari rangkaian kegiatan bertajuk Ruang Indah di Tengah Perseturuan Politik,” tuturnya di sela kegiatan, Jumat (8/3).

Menurutnya, sajian kesenian tersebut sebagai hiburan penyejuk bagi masyarakat di tengah konstelasi politik Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 yang memanas. “Suasana politik carut-marut dan acakadut ini, kita ingin memberi ruang untuk menghela napas masyarakat. Semoga bisa memberi sedikit pencerahan di tengah memanasnya kondisi politik negara saat ini,” ujar pria yang akrab disapa Acong itu.

Dia menjelaskan lomba musikalisasi itu diikuti sekitar 16 grup. Setiap kelompok musik membawakan dua lagu. Satu dari lagu 11 penyair Tasikmalaya dan satu lagu lainnya bebas. “Penyair kita seperti Acep Zamzam Noor, Saeful Badar, Yusran Arifin dan karya saya sendiri dibawakan para peserta. Alhamdulillah animo cukup tinggi. Bahkan, peserta ada yang datang dari Kalimantan, Jakarta dan lain sebagainya,” ucap Presiden Komunitas Cermin ini.

Apresiator Lomba Musikalisasi Puisi, Deden Januar (27) mengaku ter­hibur dengan penampilan para pe­serta. Hal itu tidak terlepas dari materi lagu yang dibawakan berasal dari syair puisi para penyair Tasikmalaya. “Gaya mengemas syair mereka luar biasa. Tidak monoton genre-nya disesuaikan dengan tema-tema yang diangkat penyair dalam puisi yang mereka bawakan,” ujar dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.