November-Mei 2019 Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Tanah Longsor

Musim Hujan, Waspada Longsor dan Banjir Warga Kab Tasikmalaya Tanggap Darurat

20

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

SINGAPARNA – Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya sudah menetapkan sejak 1 November 2018 sampai Mei 2019 merupakan tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor.

“Tanggap darurat ini merupakan imbauan dari Plt Bupati Tasikmalaya H Ade Sugianto sehubungan tibanya musim hujan dan Kabupaten Tasikmalaya merupakan daerah yang rawan bencana,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya H Wawan Ridwan Efendy SE MM kepada Radar, Rabu (7/11).

Wawan meminta masyarakat untuk selalu waspada ketika musim hujan ini. Semuanya harus lebih meningkatkan kewaspadaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Apabila terjadi bencana alam, masyarakat jangan panik dan harus segera berkomunikasi dengan relawan BPBD, kepolisian dan TNI. Dengan harapan masyarakat bisa terhindar dari dampak bencana,” terangnya.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik (Darlog) pada BPBD Kabupaten Tasikmalaya H Ria Supriana menambahkan musim hujan ini harus benar-benar disikapi dengan serius. Apalagi sudah terjadi banjir bandang di wilayah Tasik Selatan yang mengakibatkan korban jiwa. “Di Kabupaten Tasikmalaya hampir semua ancaman bencana ada. Mulai dari tsunami, gunung merapi, tanah longsor dan banjir. Maka dari itu harus terus meningkatkan kewaspadaan di tengah kondisi cuaca seperti ini,” terangnya.

Ria menjelaskan ada beberapa kecamatan yang rawan bencana, seperti tanah longsor dan banjir pada musim hujan ini. Diantaranya Salawu, Cigalontang, Puspahiang, Taraju, Bojonggambir, Sodonghilir, Cipatujah, Karangnunggal, Cikalong, Pagerageung, Sukahening, Cisayong, Cineam, Karangjaya, Culamega, Cibalong dan Sukaraja.

“Walaupun hampir semua kecamatan ada potensi rawan longsor, tapi yang dominan terjadi longsor ada di beberapa kecamatan tersebut,” ungkapnya.

Tambah Ria, daerah yang masuk kategori rawan longsor diantaranya terdapat bukit dan tebing dengan kondisi tanah yang gembur serta merah. Akibatnya sifat tanah tersebut menjadi labil dan mudah bergerak ketika ditimpa hujan. “Jadi ketika hujan turun, tanah labil yang semula kering terisi air hujan yang akibatnya terjadi tanah longsor,” paparnya.

Saat ini, kata Ria, masih banyak rumah atau bangunan milik warga berdiri di lokasi tebing yang rawan longsor. Padahal kondisi seperti itu sangat membahayakan bagi penghuninya, karena tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi longsor. “Kami terus mengimbau kepada masyarakat, terutama yang rumahnya dekat tebing untuk selalu berhati-hati dan waspada ketika hujan turun dengan intensitas cukup lama,” katanya. (dik)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.