Nakal Saat Remaja, Berubah, Sukses Raih Emas PON 2012 dan 2016

749
0
BERPRESTASI. Heru Mulyana (31) berhasil meraih medali emas pada Pekan Olaharga Nasional (PON) 2012 dan 2016. Dia menunjukan semangatnya sedang berlatih di Komplek Olahraga Dadaha, Minggu (7/1).

Heru Mulyana adalah salah satu contoh sukses anak muda Tasikmalaya yang mampu bangkit usai terpuruk. Dari awalnya anak nakal, dia mampu berubah menjadi pria yang membanggakan. Olahraga Tarung Derajat telah membuatnya berubah menjadi pria tangguh, berprestasi hingga mengharumkan nama Kota Tasikmalaya dan Jawa Barat.

DENI NURDIANSAH, Cihideung

MINGGU (7/1) sore, cuaca di Kota Tasikmalaya diguyur hujan deras. Di Komplek Olahraga Dadaha, Radar menunggu kedatangan Heru Mulyana atlet Tarung Derajat Kota Tasikmalaya. Tidak lama berselang, pria dengan tinggi badan sektiar 170 cm ini datang dan pembicaraan hangat dimulai.
Heru Mulayana (31) memiliki segudang prestasi dalam dunia tarung Derajat. Daerah mulai tingkat daerah hingga nasional berhasil meraih prestasi. Heru bercerita, sejak kecil hingga masuk sekolah dasar (SD) kehidupannya berjalan normal. Kehidupannya mulai berubah saat memasuki bangku SMP. Sifat badungnya mulai muncul. Bahkan sudah berani coba-coba memakai narkoba.
”Saat coba-coba, saya mendapatkan barang haram itu dari temen dekat saya,” ungkapnya kepada Radar, Minggu (7/1).
Masuk SMA, Heru mengaku sifatnya terus menjadi-jadi. Bahkan dirinya sudah tidak fokus lagi dalam belajar. Dia lebih suka nongkrong. ”Karena saya tidak merasa nyaman di kelas waktu itu,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya 1986 ini.
Perilaku Heru yang seperti itu bukan berarti tanpa kritikan dari orang tuanya. Beberapa kali, orang tuanya menegur dan menasehatinya dengan berbagai cara. Hanya tidak ada satu cara pun yang berhasil membuat Heru menjadi lebih baik.
Puncaknya, 2003 dia tersangkut kasus narkoba. Dia menjalani hukuman. Heru merasakan dinginnya penjara.
Di penjara, dia bingung. Tak berdaya. Akan tetapi, dari hukuman tersebut anak muda ini mendapatkan pelajaran. Dia sadar. Heru ingin bangkit. Berubah. Dia ingin membanggakan orang-orang yang dicintainya. Termasuk orang tuanya.
Sekitar 2004, Heru berhasil menyelesaikan masa hukumannya. Usai keluar dari penjara, Heru mendapatkan beban baru. Dia tertekan dari lingkungannya. Heru pun akhirnya hanya mengurung diri. Hampir setahun lebih, dia tidak bersosialisasi.
”Di tahun 2006 saya punya keinginan untuk berubah. Ingin bekerja dan punya penghasilan, apalagi waktu orang tua saya pernah mengungkapkan keinginan untuk memiliki lemari es,” ujarnya.
Semangat itu, Heru akhirnya mem­beranikan diri mencari pekerjaan. Dia diterima bekerja di warung kelontongan yang hanya bertahan selama dua minggu dengan mendapatkan bayaran Rp 75.000. ”Saya dikeluarkan, karena waktu itu saya suka melawan majikan saya,” terangnya.
Berbekal Rp 75.000 hasil bekerja di warung kelontongan, Heru diajak temannya bergabung di Satlat Tarung Derajat Kota Tasikmalaya, di Jalan Dokar.
”Saya diajak untuk berlatih, dengan modal uang hasil bekerja di warung klontongan, saya pun mendaftarkan diri ke satlat tersebut,” jelasnya.
Ketika mendaftar, Heru berkomitmen ingin serius menggeluti dunia Tarung Derajat. Dia bertekad tidak main-main. Heru ingin membangun masa depan pada cabang olahraga ini.
“Di sini saya merasa senang, karena punya kegiatan yang jelas dan bisa mengikuti turnamen di berbagai tingkatan,” terangnya.
Dalam perjalanan, berbagai turnamen diikutinya. Heru mengikuti babak kualifikas PON 2008 pertama kalinya di Kaltim dan berhasil lolos walaupun tidak mendapatkan medali apapun.
Kemudian tahun 2008 Heru berangkat ke Jawa Tengah dan berlatih di sana. Karena waktu itu kemampuannya masih belum memadai, ia pun dicoret dari pemusatan latihan daerah (pelatda). ”Saya pun merasa tidak enak hati waktu itu dan memutuskan kembali ke Kota Tasikmalaya,” jelasnya.
Kembali ke Kota Tasikmalaya, Heru masuk ke Satlat Graha Satria Perkasa/Kawah Narayana yang tidak lain adalah binaan H Noves Narayana dan Jeni Hadoni pada tahun 2009. ”Sejak itu saya mampu meraih beberapa prestasi mulai dari kejurda, kejurwil dan porda, piala presiden dan masih banyak prestasi lainnya,” bebernya.
Berbekal prestasi tersebut, Heru kembali mengikuti babak kualifikasi PON Riau 2012 dan berhasil lolos. Dengan tekad yang kuat, akhirnya dia berhasil meraih medali emas pada pekan olahraga empat tahunan ini. ”Dan, itu adalah kejuaraan prestisus pertama yang saya dapatkan,” bangganya.
Dua tahun selanjutnya, Heru menunjukan kembali prestasinya dengan meraih medali emas di Porda Jabar 2014. Dia kembali mengukuhkan diri sebagai atlet nasional, dengan meraih medali emas pada PON 2016 yang diselenggarakan di Bandung dan mengharumkan nama Kota Tasikmalaya tingkat nasional. ”Itu menjadi moment terbaik saya, karena bertindak sebagai tuan rumah saya dituntut untuk menang (karena mewakili Jawa Barat, Red),” tuturnya.
Heru akan kembali berlaga pada Porda 2018 di Bogor. Dia juga menargetkan kembali meraih medali emas walaupun usianya sudah senior. ”Selain itu saya juga mulai fokus terhadap pekerjaan saya dan istri saya yang kini sedang hamil anak pertama,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa kerja keras, keuletan dan kepercayaan merupakan kunci sukses hingga saat ini. Sifat pantang menyerah juga menjadikannya tetap tegar dalam menghadapi cobaan. ”Dulu saya memang sempat terpuruk, alhamdulillah kini saya bisa membuat bangga orang tua dan istri saya,” terangnya.
Heru juga menyampaikan bahwa dalam bekerja jangan terlalu terobsesi dengan yang namanya uang. ”Kalau yang dikejarnya uang saya yakin karirmu tidak akan lancar, tapi jika prestasi dan kesenangan yang diutamakan pasti kamu akan sukses,” ujarnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.