Bulan Maret 2019, Tiga Kasus Besar Mencuat dan Menjadi Viral “Narkoba, Korupsi, dan Terorisme”

212
0
Oleh Asep M Tamam

Kehidupan yang dinamis meniscayakan kebaruan peristiwa. Setiap hari, kita dikejutkan oleh berita baru dalam setiap dimensinya. Segala lini bergerak. Untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan hidup, semua berjalan ke depan dan melakukan lompatan.

Tuntutan kebutuhan hidup membuat orang terdorong untuk melakukan sesuatu. Hasilnya, ia bisa mendapatkan rezeki. Yang lain mendapatkan eksistensi. Sesisanya harus rela antre dan menanti. Tapi jaminan kehidupan sudah diatur Sang Ilahi. Yang yakin bisa bekerja dengan tenang hati. Beberapa di antara kita tak cukup dengan semua ini. Mereka mengkhianati diri, melakukan hal yang dibenci. Sebagian korupsi. Sebagian lagi memilih barang haram untuk dikonsumsi. Yang lainnya melakukan teror dan menakut-nakuti.

Pilihan Gaya Hidup

Bulan Maret 2019, tiga kasus besar mencuat dan menjadi viral. Tertangkapnya petinggi partai karena mengonsumsi narkoba menjadi pembuka. Selanjutnya, pimpinan salah satu partai kontestan pemilu dijerat OTT dengan kasus dugaan korupsi. Di hari yang sama, di Masjid Al-Noor, Kota Christchurch, Selandia Baru, seorang teroris yang bernama Brenton Harrison Tarrant, membunuh 50 jemaah.

Tiga peristiwa ini memberi pesan bahwa perang besar dunia internasional, khususnya di Indonesia terhadap narkoba, korupsi, dan terorisme terus dilakukan tanpa terhenti.

Kenapa narkoba dikonsumsi? Kenapa pejabat nekat korupsi? Kenapa jalan menjadi teroris ditempuh? Jawabannya karena pilihan setiap orang tak selalu harus sama. Ada orang yang dipermudah menjadi apa yang dia mau. Ada yang harus terpaksa menjadi apa yang bukan dicita-citakan. Ada juga yang memilih jalan pintas untuk bisa melanjutkan hidup dan mencapai eksistensinya dengan cara menghadapi hukum dan berhadapan dengan aparat penegak hukum (APK). Menjadi pecandu narkoba, menjadi koruptor, menjadi teroris bukanlah cita-cita. Dalam list apa pun yang dirilis sekolah TK dan SD, di mana pun, pasti tak akan ada seorang pun anak yang mau menjadi satu di antara tiga profesi di atas.

Setelah terbiasa, semua keranjingan. Seorang pecandu narkoba akan merasa di sanalah dunianya. Dunia itulah yang bisa mengantarkan dirinya pada sebuah eksistensi. Seorang koruptor pun demikian. Dengan korupsi, dia bisa membeli dan mencipta. Dengan korupsi, banyak keinginan yang bisa didapatkan. Fasilitas yang diidamkan takkan bisa terwujud jika hanya mengandalkan pemasukan dan gaji bulanan. Pun demikian dengan seorang teroris. Dia merasakan jalan yang ditempuhnya bisa mempercepat dirinya pada apa yang didoktrinasikan, yaitu masuk surga.

Jalan Pintas

Ketiga pihak di atas; pecandu narkoba, koruptor, maupun teroris telah memilih melewati jalan pintas. Tak mudah untuk mengambil risiko dari ketiganya. Jika apes, hotel berjeruji menjadi akhir pintasan. Bahkan bagi para pecandu dan pengedar narkoba, juga para teroris, hotel prodeo masih belum seberapa. Mereka bahkan bisa lebih cepat bertemu ajal karenanya.

Ketiga profesi di atas nyata bermasalah. Undang-undang, hukum positif, juga hukum sosial mengancam ketiganya. Selain itu, di hadapan mereka, perlawanan masyarakat tak pernah dan tak akan pernah surut, bahkan terus menguat. Pilihan jalan pintas membuatnya harus berurusan dengan masyarakat yang tak rela sebagian keluarganya terjerat narkoba, korupsi, juga terorisme.

Perlawanan terhadap kejahatan narkoba, mengonsumsi atau megedarkannya dikomandoi Badan Narkotika Nasional (BNN). Perlawanan terhadap korupsi dipimpin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sementara di hadapan teroris ada Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Ketiganya bersinergi dan menjadi garda terdepan dalam proses “jihadnya” masing-masing.

Dua badan (BPN dan BNPT) dan satu komisi (KPK) bekerja bukan tanpa masalah. Konsep dan teori sosial menegaskan bahwa semakin kuat dan ketatnya aturan, maka semakin kuat dan hebat pula penjahat mencari celah yang bisa diterabas. Modus operandi pengedaran narkoba semakin canggih. Modus korupsi dengan segala derivasinya juga semakin absurd. Sementara terorisme, meski dalam rentang beberapa tahun terakhir, terutama di Indonesia tengah tiarap, tapi potensi dari regenerasi yang terus didoktrinasikan tentu memiliki konsep yang tidak terduga. Mereka menunggu negara, aparat, dan masyarakat lengah.

Di balik setiap masalah pasti ada hikmah. Tiga masalah di atas, narkoba, korupsi, dan terorisme, mengajarkan kita untuk lebih waspada dan lebih peduli pada keluarga terdekat, juga pada lingkungan masyarakat tempat kita menitipkan diri. Ada beberapa pilihan yang bisa kita tentukan; menjadi korban, atau bersinergi melawan. Tentu pilihan kedua yang kita tentukan. (*)

*Pengamat sosial, politik dan pemerintahan

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.