Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.9%

19.6%

8.2%

68.3%

Nasib 15 ABK Telantar & Kelaparan di Rumah Mewah di Cipanas Garut

149
0
DISELAMATKAN. Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia mendatangi penampungan ABK Rabu malam (19/8). yana taryana / rakyat garut

TAROGONG KALER – Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menggerebek sebuah rumah yang diduga menjadi penampungan belasan anak buah kapal (ABK) di Jalan Raya Cipanas Baru Desa Tegal Jambu Kecamatan Tarogong Kaler sekitar pukul 22.00 Rabu (19/8).

Dari penggerebekan tersebut, BP2MI menyelamatkan 15 ABK yang telantar di rumah mewah tersebut.

Baca juga : Belajar Tatap Muka di Garut Tidak Diizinkan

Kepala BP2MI Benny Rhamdani menuturkan penggerebakan dilakukan setelah ada laporan yang masuk ke pihaknya. Informasi itu menyebut ada belasan ABK yang ditelantarkan majikannya.

“Kami terima laporan ada 15 ABK telantar di sini. Makanya kami datangi dan hasilnya memang benar. Ada 15 ABK yang telantar dari hasil penggerebekan,” ucap Benny Kamis (20/8).

Kondisi ABK sangat mengkhawatirkan karena kelaparan. Para ABK itu tak diberi makan yang layak. “Para ABK ini cuma dikasih makan dua sampai tiga hari sekali. Saat kami temukan, mereka sangat kelaparan,” katanya.

Menurut dia, belasan ABK itu diberangkatkan agensi yang berbasis di Garut. Dua tahun terakhir, mereka bekerja di Taiwan sebagai ABK kapal ikan.

Para ABK itu terpaksa bertahan di rumah milik agensi itu untuk menuntut haknya. Pasalnya para ABK tak diberi upah sesuai kesepakatan kontrak oleh pihak.

“Padahal mereka telah bekerja sesuai kesepakatan kontrak sebagai ABK. Tapi upah yang diberikan tidak sesuai. Jadinya mereka bertahan di rumah ini untuk mendapatkan hak-haknya,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, 15 ABK sudah dibawa ke rumah aman. Saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Polres Garut dalam penanganan perkara itu. “Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk mengusut kasus ini,” katanya.

Sementara itu, Arifin Sastranegara, salah satu ABK di penampungan mengaku bersama teman-temannya karena gaji selama bekerja di kapal belum diberikan oleh pihak perusahaan. Sehingga dirinya menunggu di tempat penampungan perusahaan.

“Kami bekerja di kapal ikan Taiwan selama dua tahun, tapi uangnya belum diberikan,” ujar warga Makassar ini kepada wartawan, kemarin.

Menurut dia, jumlah gaji yang belum dibayar setiap orangnya fantastis. Seperti dirinya itu Rp 50 juta dari total gaji Rp 80 juta. “Saya baru dikasih Rp 30 juta, sisanya belum dikasih,” ujarnya.

Pria asal Makassar itu terpaksa hidup tak jelas di Garut. Kisahnya bermula saat Arifin ditawari pekerjaan jadi ABK kapal ikan oleh seseorang bernama Al. Pada 2017, Arifin bertemu dengan Al, pria yang baru dikenalnya di Jakarta.

Pertemuan itu tak disengaja dan Al memintanya untuk bekerja ketimbang pulang ke kampung halaman.

“Kapal saya sebelumnya alami musibah kebakaran di Pulau Solomon. Saya akhirnya pulang ke Indonesia. Pas di Jakarta, ketemu dengan Al ini dan menawarkan saya jadi ABK,” tuturnya.

Ia pun tak curiga dengan ajakan itu. Selama satu bulan, Arifin dibantu untuk mengurus administrasi sebelum jadi ABK ke Taiwan. Ia lalu berangkat ke Singapura dan bekerja di kapal ikan di Taiwan.

Dalam perjanjian kerja, Arifin akan mendapat upah sebesar 500 USD. Sebanyak 50 USD dibayar langsung dan sisanya akan dikirim ke keluarga.

“Dua tahun kerja itu saya seharusnya dibayar Rp 80 juta. Kerja juga keras sekali di kapal itu,” ujarnya.

Usai dua tahun bekerja, Arifin kembali ke Indonesia. Namun saat hendak pulang ke Makassar, ia mendapat informasi gajinya selama di kapal ikan tak dikirim agensi ke keluarganya. “Saya lalu cari tahu kebenarannya. Ternyata benar Al ini tidak kirim uang ke keluarga saya,” ucapnya.

Tanpa pikir panjang, Arifin lantas menyambangi ke kantor agensi di Garut. Ia mempertanyakan terkait gajinya.

“Dari agensi malah ngelak terus. Bahkan sempat dia ancam saya. Daripada hangus, saya pilih bertahan di Garut agar hak saya dibayar,” ujarnya.

Saat di Garut, Arifin tak seorang diri. Banyak kawannya yang mengalami hal serupa. Salah seorang temannya ada yang tak dibayar sampai Rp 136 juta.

“Selama dua tahun kerja digondol semua gajinya. Tidak dibayar sepeser pun,” jelasnya.

Setahun hidup di Garut, Arifin harus berutang ke warung untuk bertahan hidup. Rekan-rekannya sesama anak buah kapal (ABK) melakukan hal serupa. Sebanyak 15 ABK itu mempunyai utang sebesar Rp 17 juta hanya untuk makan.

Ke 15 orang itu biasa makan di warung milik Yulia (53). Awalnya, kata dia, para ABK sering jajan dan membayar seperti biasa. Namun semakin lama, mereka kerap berutang.

“Mulanya tak curiga soal kondisi mereka. Suka jajan, bayar biasa. Tapi lama-lama suka ngutang dan totalnya Rp 17 juta selama setahun sejak 2019,” ucapnya.

Yulia lantas menanyakan kepada para ABK soal kondisi mereka. Ia kaget saat mengetahui hasil keringat mereka bekerja di kapal ikan tak dibayar bosnya.

“Saya kasihan juga karena gaji mereka ratusan juta belum dibayar,” tuturnya.

Yulia mengaku kenal dengan sosok bos para ABK berinisial SH alias A. Ia lalu datang agensi tersebut di Jalan Cipanas dan menanyakan soal utang para ABK.

Baca juga : HEBAT.. Pemdes di Garut Ini Bantu Siswa Belajar Daring

Bos para ABK awalnya mengelak jika utang itu bukan tanggung jawabnya. Namun saat menyinggung gaji ABK yang belum dibayar, A merasa malu dan mau membayar utang makan belasan juta rupiah itu.

“Tapi enggak dibayar semua utangnya. Masih ada Rp 6 juta lagi. Saya kasihan ke mereka, sisanya diikhlaskan saja. Saya juga membolehkan mereka makan ke rumah sesekali,” paparnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.