Nasib Siswa Bukan di-UN

84
0
Kita mendukung kebijakan Mendikbud, untuk lebih mempersiapkan karakter siswa yang siap menghadapi perkembangan zaman.” Drs H Budi Budiman Wali Kota Tasikmalaya

TASIK – Pemerintah Kota Tasikmalaya menyambut baik rencana penghapusan Ujian Nasional (UN). Karena nasib peserta didik yang sudah digembleng selama bertahun-tahun, sangat disayangkan apabila dipertaruhkan dengan hitungan hari melalui ujian tersebut.

Wali Kota Tasikmalaya Drs H Budi Budiman menyebut sekolah harus lebih fokus mempersiapkan peserta didik yang siap menghadapi perkembangan zaman, bukan hanya memiliki nilai akademis tinggi. “Kita mendukung kebijakan Mendikbud, untuk lebih mempersiapkan karakter siswa yang siap menghadapi perkembangan zaman,” katanya ditemui di Dadaha, Jumat (13/12).

Menurutnya, dalam menghadapi revolusi 4.0 dunia usaha lebih membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi. Maka dari itu, pendekatan pengajaran terhadap siswa juga harus disesuaikan, yaitu untuk peningkatan SDM, bukan hanya nilai akademis bagus.

Dia mencontohkan beberapa negara maju pun nilai akademis tidak menjadi patokan keberhasilan siswa di sekolah. Pendidikan karakter dan keahlian justru menjadi perhatian. “Sehingga siswa bisa lebih memiliki jiwa kepemimpinan atau jiwa enterpreneur yang lebih tinggi,” ujarnya.

Selama ini, kata Budi, keberhasilan dunia pendidikan selalu didasari dengan ujian. Padahal, banyak orang yang berhasil di dunia kerja, justru saat bersekolah nilai akademisnya biasa saja dan tidak tergolong kalangan siswa pintar dalam hal akademik.

“Ternyata dia punya kelebihan lain. Itu harus menjadi pertimbangan, agar siswa keluar sekolah siap menghadapi kehidupan nyata di lapangan,” ujar orang nomor satu di Kota Tasikmalaya itu.

Budi yang juga mantan seorang guru, mengakui selama ini tenaga pendidik kerap disibukkan dengan urusan administrasi. Akibatnya, mereka tidak terlalu fokus mendidik siswa. “Intinya guru juga harus fokus mempersiapkan peserta didik. Tak hanya mengejar administratif sekolah,” harapnya.

Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya Ahmad Junaedi mengakui perlunya otoritas guru dalam menentukan layak tidaknya seorang siswa lulus sekolah. “Sebab, guru yang tahu betul siapa saja yang unggul, yang rajin, yang memiliki potensi. Bukan soal UN yang menjadi penentu,” katanya.

Sementara itu, Praktisi Pendidikan Kota Tasikmalaya Hj Affi Endah Navillah mengaku setuju rencana penghapusan UN. Hal tersebut, justru dinantikannya sejak lama. “Sebab, jika UN dianggap sebagai kegiatan untuk mengukur sejauhmana sebuah sekolah mampu mencapai standar secara nasional, itu masih bisa capaian pembelajarannya pun beragam,” kata Kepala SMPN 10 Kota Tasikmalaya itu.

Setiap sekolah, kata dia, memiliki karakteristik yang beragam. UN tidak bisa menjadi sebuah alat penilaian dalam menentukan nasib seorang siswa. “Jadi untuk penilaian, biarkan sekolah diberi keleluasaan untuk melakukan penilaian sendiri terhadap peserta didiknya, cukup melalui ujian akhir sekolah,” kata dia.

Ketua Fatayat NU Kota Tasikmalaya ini menyebut guru dilatih untuk membuat soal berbasis Higher Order of Thinking Skill (HOTS) atau kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sesuai dengan kompetensi yang diinginkan. “UN juga memberi kesan, 4 pelajaran lebih penting dari yang lain, Faktanya? Banyak orang yang sukses di musik, olahraga, IT dan lain-lain,” tutur Affi.

“Sehingga, meniadakan UN sama halnya menjadikan seluruh mata pelajaran itu sama, tak ada yang lebih penting,” ucapnya melanjutkan. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.