Nasib UMKM di Kota Tasik Merana dan Belum Pernah Terima Bantuan Pemerintah

52
0
Produksi UMKM Makaroni Bulan Sabit di Kecamatan Cipedes Kota Tasik.
Loading...

KOTA TASIK – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia tidak terkecuali di Indonesia, membuat seluruh sendi-sendi kehidupan terguncang.

Akibatnya, banyak perusahaan atau Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) yang mengurangi sebagian karyawan hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Upaya pemerintah saat ini, terus menggulirkan bantuan kepada para pelaku UMKM, untuk menggeliatkan kembali perekonomian masyarakat.

Namun, karena pandemi yang belum juga mereda, membuat pelaku UMKM harus memutar otak, agar tetap bisa bertahan.

Berkurangnya permintaan dan terkendalanya pendistribusian karena sebagaian daerah masih memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadi salah satu tantangan bagi para pelaku UMKM.

Loading...

Hal itu seperti yang dialami salah seorang pelaku UMKM di Jalan RE Marthadinata, Kecamatan Cipedes, Kota Tasikmalaya. Adalah produk cemilan, berupa makaroni goreng.

Asep Mahbub, sang pengusaha mengatakan, sejak pandemi Covid-19 produksi makaroninya mengalami penurunan hingga 50%.

Jika biasanya dalam sehari mampu menghasilkan 4 kuintal makaroni, kini hanya tinggal setengahnya yakni 2 kuintal.

“Dulu produksi itu nonstop. Kalau sekarang paling 2 atau 3 hari dalam seminggu,” ujar Asep Rabu (06/01).

Terang dia, usaha makaroni yang digelutinya tersebut sudah berlangsung sejak sepuluh tahun lalu.

Kini, akibat adanya pandemi covid-19, ia pun terpaksa memangkas jumlah karyawannya.

“Sekarang yang bekerja tinggal 13 orang. Sebelumnya yang kerja di sini ada 19 orang,” terangnya.

Ia menjelaskan, makaroni yang diberi nama dagang Makaroni Bulan Sabit ini dipasarkan melalui medis sosial (Medsos).

“Untuk di pulau Jawa, selain di wilayah Kota Tasikmalaya dan sekitarnya, pemasaran sampai ke Surabaya dan Madiun. Kalau luar Jawa itu ke Kalimantan, Medan, dan Banda Aceh,” bebernya.

Dia menambahkan, untuk proses pengiriman dilakukan melalui cargo. Harga per bungkus berisi 10 picis di bandrol Rp14.000.

“Kita menjual sampai lokasi itu Rp14.000 per bungkus dan sudah termasuk ongkos kirim. Kerusakan atau kadaluwarsa sudah ditanggung semuanya. Jadi pedangang di sana tidak punya resiko apa-apa tinggal memasarkan saja,” tambahnya.

Jelas dia, untuk rasa sesuaikan dengan pesanan konsumen. Ada balado, sate panggang dan lainnya.

“Yang kami tawarkan itu ada 9 rasa. Pedas, asin, balado, sapi panggang, jagung manis, rumput laut, balado pedas manis, dan pedas manis,” jelasnya.

Disinggung soal adanya bantuan dari pemerintah untuk para pelaku usaha, dirinya mengaku belum pernah mendapatkannya.

Kendati demikian dirinya tidak begitu berharap akan bantuan dengan alasan mungkin masih banyak yang lebih membutuhkan.

“Selama pandemi ini belum ada bantuan, masih modal sendiri,” pungkasnya.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.