Nasib Warga Miskin Di Kawalu, Pilih Jomblo

108

Siapa Presiden Pilihan Mu ?

KAWALU – Tidak mudah bagi keluarga miskin membebaskan diri dari jeratan kemelaratan. Untuk menopang hidupnya, mereka banyak bergantung pada kepedulian pemerintah. Seperti halnya yang diderita oleh keluarga Komar (80) di Kampung Cibihbul RT/RW 04/04 Kelurahan Talagasari Kecamatan Kawalu.

Komar tinggal di rumah panggung berukuran 5×6 meter. Dilengkapi ruang tengah, dua kamar tidur dan dapur. Di dapurnya tidak tersedia kompor. Tempat perapian hanya mengandalkan tungku. Adapun bantuan gas 3 kilogram dari pemerintah terpaksa dijual. Karena dianggap berbahaya.

Di rumah reyot yang belum diperbaiki sejak 50 tahun lalu itu, Komar ditemani dua putranya. Iik Akik (40) dan Hamam (47). Mereka berdua menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja serabutan di sebuah tempat sablon dan mukena. Di usia yang sudah kepala empat, mereka belum berumah tangga.

Iik tentu ingin menikah. Membangun rumah tangga selayaknya masyarakat pada umumnya. Namun, kesulitan ekonomi membuatnya minder. Ditambah menata keluarga juga butuh finansial cukup. “Siapa yang mau kalau kondisi saya miskin begini,” ungkap Iik.

Penghasilan Iik di tempat sablon tak menentu. Sebagai buruh harian lepas, dia hanya mendapatkan upah Rp 15 ribu seminggu. Ketika ada pekerjaan dapat uang. Ketika tak ada, terpaksa meminjam ke tetangga. “Kalau tidak ada yang bisa dikerjakan ya enggak ada penghasilan,” tutur dia.

Demikian juga dengan Hamam. Di usianya yang hampir setengah abad belum berani menikah. Keinginan untuk berumah tangga sudah dikubur dalam-dalam. Karena pendapatan untuk biaya hidup pun tak jelas. “Apalagi usia sudah lumayan tua. Ekonomi begini jadi boro-boro mikir perempuan,” terangnya.

Penghasilan Hamam di tempat produksi mukena tidaklah besar. Dalam sebulan, dia mendapat upah sebesar Rp 500 ribu. Uang itu dia gunakan untuk keperluan sehari-hari.
Sementara rutinitas berangkat ke tempat kerja, Iik dan Hamam terbiasa berjalan kaki. Atau nebeng kendaraan warga lain. Karena motor juga tak punya.

Bahkan mengendarainya pun tak mampu. “Tidak bisa pakai motor karena seumur hidup belum pernah punya,” ucap Hamam.

Hamam tentu selalu berikhtiar mencari pekerjaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi selalu menemui jalan terjal. Karena pendidikan terakhir yang mereka tempuh hanya sampai sekolah dasar (SD). Apalagi Iik. Dia berhenti sekolah sejak di kelas V SD. Karena tak punya biaya. Terlebih, di masa mudanya, Komar hanya mendapatkan upah dari kuli panggul. Efek pekerjaan ini pun membuat pinggang Komar bermasalah di masa tuanya.

Keluarga Komar kini pasrah dengan kekurangan-kekurangan yang melilit kehidupannya. Makan terbiasa seadanya. Kadang lalap. Kadang asin. Paling mewah dengan telur ayam. “Makan daging ayam kalau ada yang ngasih, kalau daging sapi ya setahun sekali pas lebaran haji (Idul Adha),” tutur Hamam.

Keluarga Komar memang sudah tercatat sebagai penerima bantuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Program Keluarga Harapan (PKH). Namun tidak cukup untuk membuat mereka hidup serba cukup. Untungnya, tahun ini mereka mendapat bantuan perbaikan rumah dari pemerintah provinsi.

Pelaksana Kesra Kelurahan Talagasari, Yayat menyebutkan pada 2016, keluarga Komar pernah mendapat bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu). Namun dibatalkan. Karena tidak siap menutupi kekurangannya. Mengingat bantuan yang diberikan hanya stimulan. “Kalau sekarang kan Rp 15 juta. Jadi disanggupi. Beda dengan yang kemarin hanya Rp 7,5 juta,” terangnya. (rga)

CALEG KITA

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.