Naza De Coco dari Banjarsari Ciamis Merambah Pasar Nasional

164
0
WIRAUSAHA BINAAN BI. Owner Naza De Coco Enok Sri Kurniasih (kanan) berbincang dengan pegawai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya saat kunjungan, kemarin. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya
WIRAUSAHA BINAAN BI. Owner Naza De Coco Enok Sri Kurniasih (kanan) berbincang dengan pegawai Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya saat kunjungan, kemarin. Anto Sugiarto / Radar Tasikmalaya

BANJARSARI – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang kesuksesan, hal itu dibuktikan owner Naza De Coco Enok Sri Kurniasih (46). Lengan tangan kanannya diamputasi paska kecelakaan 1995 silam, namun ia tetap semangat membesarkan usahanya, bahkan ia pun semakin sukses sejak dibina oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya.

Enok memanfaatkan limbah air kelapa menjadi produk olahan nata de coco yang bernilai jual tinggi. Jatuh bangun usaha telah dilewatinya. “Alhamdulillah berkat dorongan dan bimbingan BI yang membantu usaha Naza De Coco bisa seperti ini,” ujar dia di rumahnya Dusun Badak Jalu RT 32 RW 08 Desa Cicapar Kecamatan Banjarsari Kabupaten Ciamis, Senin (9/11).

Dia menjelaskan, awal merintis usaha Naza De Coco tahun 2001 bersama suaminya kala itu. Hanya bermodal pengalaman pernah bekerja selama enam tahun jadi karyawan pembuat nata de coco di Pontianak Kalimantan.

Sambil bekerja, dia memberanikan membuat nata de coco dengan modal nampan (wadah) hasil pinjaman. Hasilnya cukup lumayan dan bisa meraup keuntungan sebesar Rp 150 ribu kala itu.

“Saya terus berusaha dan memberanikan diri dan akhirnya merintis di kampung halaman sampai sekarang. Meski sebelumnya sempat jatuh bangun,” tandasnya.

Baca juga : Polsek Pangandaran & Koramil Terus Ingatkan Warga Soal 3M

Tahun 2014, kala itu, dia bertemu dengan teman yang kerja di sebuah bank, dan memberi tahu ada program Wirausaha Binaan Bank Indonesia (WUBI). Saat itu sempat minder, karena usaha belum berjalan baik. Namun, waktu pendaftaran WUBI akan berakhir, mencoba memberanikan diri ikut dan akhirnya masuk.

Kata dia, setelah mengikuti program WUBI akhirnya muncul produk Naza De Coco, nama tersebut diambil dari singkatan kedua anaknya, Nabil dan Zaki, tercetus nama produk Naza De Coco.

Dikatakan dia, pihak BI pun terus memberikan pendampingan, pembinaan dan pelatihan. Akhirnya Naza De Coco memiliki legalitas PIRT, label halal dan saat ini sedang menunggu BPOM datang ke pabrik.

“Berkat dukungan BI dari tahun 2014, produktivitas meningkat. Awalnya ada 6 karyawan, sekarang sudah mencapai 40 lebih karyawan dengan omzet Rp 200 juta per bulan dengan jumlah produksi 4.000 sampai 5.000 lembar atau 4 ton per minggu,” katanya.

Diakuinya, sejak Mei hingga Juli 2020 usahanya sempat lumpuh tidak beroperasi. Karena saat itu, di daerah pengiriman dilakukan PSBB dampak dari corona. Namun ia bangkit lagi pada Agustus hingga sekarang dan pesanan terus berdatangan meski masih pandemi.

Kata dia, pangsa pasar cukup berpeluang dan sudah banyak yang produsen besar skala nasional yang mengambil bahan baku dari Naza De Coco, seperti Wong Coco dan lainnya. Selain itu, produknya dijual dengan nama produk Naza De Coco yang dijual ke Priangan Timur dan pasar nasional. (nto)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.