Nenek yang Jual Diri di Kota Tasik, Disebut Warga si Layung

4886
1
Loading...

TASIK – Ditemukannya seorang nenek yang menyambi jadi Pekerja Seks Komersial (PSK) di Kota Santri menyita perhatian publik.

Radar pun berupaya mendalami lebih jauh tentang keseharian wanita lanjut usia (lansia) berumur sekitar 70 Tahun tersebut.

Nenek tersebut berinsial TS, dia lahir Tahun 1951 ini, yang beralamat di Kampung Lewo Babakan Kelurahan Bantarsari Kecamatan Bungursari Kota Tasikmalaya.

Saat ditemui Radar, Kamis sore (7/1) nenek tersebut tengah duduk dipojokan eks ruko Jalan Pasar baru II 3/4D.

Beralaskan tikar, dengan dua tas slempang dan terdapat dua kresek hitam berisi pakaian dan perlengkapan pribadinya.

Loading...

Mengenakan gamis berwarna cerah, dihiasi gelang dan aksesoris yang agak ramai.

Bedaknya cukup tebal untuk merias wajah seusianya, yang juga dilengkapi gincu agak terang menempel pada bibir lansia yang dikenal warga sekitar dengan sebutan Si Layung.

Baca juga : Kota Tasik tak Termasuk PSBB Jawa-Bali

Kepada Radar, TS mengaku sudah tahunan tinggal di situ. Meski memiliki tempat tinggal di Lewo Babakan, bahkan untuk mandi pun di WC umum sekitaran Pasar Lama.

TS mengaku sehari-hari mencari penghasilan dari upah jasa pijat dan kerok.

“Kadang Rp 15 ribu, Rp 20 ribu ya bagusnya Rp 30ribu. Kadang tak dapat seharian, saya biasa sampai malam di sini (eks ruko, Red),” ujarnya.

TS mengaku terkadang ia pulang ke kampungnya, kadang ke rumah saudaranya di Cieunteung.

Ia tidak mengaku sering tidur di pojokan eks ruko tersebut. Meski warga sekitar menegaskan sudah sehari-hari ia tinggal di teras seluas sekitar 2 meteran itu.

“Saya sudah tahunan di sini. Tidur di sini kadang, ya andalkan dari mijit, ngerok, tapi engga ‘gituan’ (menjual diri, Red),” selorohnya.

TS sendiri sudah belasan tahun menyandang status janda karena bercerai dengan suaminya.

Anak-anaknya, kata dia, banyak. Tapi tidak di Tasikmalaya, ada yang di Irian Jaya.

Ia mengaku saat Pasar Lama masih ramai, ia memiliki toko jualan kelontongan.

“Dulu ngewarung jaman pasar kebakaran. Anak saya ada yang di Irian Jaya, saya mau ke sana kok semingguan lagi berangkat mau ambil uang-uang saya,” katanya menceritakan.

Ia tidak berharap apa-apa. Hanya berusaha melanjutkan hidup dengan apa yang bisa ia lakukan. Bahkan ia mengaku bisa menyembuhkan orang terkilir, jatuh dan lain sebagainya.

“Yang jatuh saya sembuhkan. Ya begitu saja, kadang di sini kadang di bengkel sepeda kalau mau mijet,” ujarnya.

Radar pun mencoba mencari keterangan, kenapa nenek tersebut dijuluki Si Layung.

Namun hingga berita ini diturunkan belum ada satu pun warga yang bisa menjelaskan asal- usul nenek itu dipanggil Si Layung.

Salah seorang pengamen yang enggan disebut namanya, membenarkan bahwa si nenek diketahui menjajakan diri setiap hari mulai pukul 23.00. Nenek tersebut biasanya terlebih dahulu menawarkan jasa pijat atau kerok.

“Ya saya juga bingung. Banyak yang bilang Si Layung (panggilan si nenek, Red) juga ‘bisa main’,” ujarnya.

Kuli angkut yang kerap bekerja di kawasan itu, menuturkan hal serupa. Profesi Si Layung bagi sebagian warga sekitar diketahui beberapa kesempatan menjajakan diri diluar jasa yang biasa ia layani.

“Dengarnya sih begitu, tapi saya juga takut suudzon karena belum mencoba,” selorohnya.

Ditemukannya seorang nenek yang menjual diri untuk bisa bertahun hidup menarik simpati para tokoh, politisi hingga pegiat sosial di Kota Santri.

Seperti Sekretaris MUI Kota Tasikmalaya, KH Aminuddin Busthomi, politisi yang juga Anggota DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi PDI-Perjuangan H Denny Romdhoni dan H Rachmat Soegandar serta pegiat sosial Bayhaqi Umar yang langsung meminta informasi ke dapur redaksi Radar.

Mereka mengaku sangat prihatin atas apa yang menimpa wanita lanjut usia tersebut.

“Mohon maaf, saya sangat menyesalkan adanya warga kita yang bernasib seperti itu. Mohon informasi lebih detail, kita akan berdayakan agar ia berpenghasilan dan hidup dengan layak,” ujar H Rachmat Soegandar.

Tidak hanya itu, Koordinator Relawan Yanto Oce, Lea Aneu pun sempat meminta informasi detail keberadaan nenek tersebut.

Ada pula yang merasa prihatin dengan kondisi nenek yang masih ‘bekerja di malam hari’ itu.

Bahkan ada pada sore hari kemarin (7/1), ada seorang warga Kota Tasikmalaya, yang kini tinggal di luar daerah, memberikan santunan kepada nenek tersebut sebesar Rp 5 juta.

Tokoh sukses tersebut hanya berharap agar perempuan sepuh itu tidak lagi menjadi perempuan malam dan segera bertaubat. (igi)

Berita Terkait:
MIRIS.. Nenek di Kota Tasik Terpaksa Jual Diri, Segini Tarifnya..

Nenek yang Jual Diri Dibujuk Dinsos Kota Tasik untuk Dibina

Empati & Kepedulian Terus Mengalir, Si Layung: Hatur Nuhun

 

loading...

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.