Neraca Perdagangan Membaik

20

JAKARTA – Neraca perdagangan Republik Indonesia (RI) Maret lalu surplus USD 540 juta (sekitar Rp 7,5 triliun). Terjadi kenaikan ekspor 11,71 persen dari bulan sebelumnya menjadi USD 14,03 miliar (sekitar Rp197,3 triliun). Kendati demikian, secara kumulatif neraca dagang RI sepanjang kuartal I tahun ini justru mengalami defisit USD 193 juta (sekitar Rp2,7 triliun).

“Tapi, pemerintah sudah membuat berbagai kebijakan untuk menekan impor dan mendorong ekspor. Jadi, kita optimistis saja,” urai Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto.

Ekspor pada kuartal I tahun ini turun 8,47 persen dari periode yang sama tahun lalu. Nominalnya mencapai USD 40,52 miliar (sekitar Rp 569,9 triliun). Impor pun turun dari USD 43,95 miliar pada kuartal I 2018 menjadi USD40,70 miliar (sekitar Rp 572,5 triliun) tahun ini.

Pada kuartal I ini, ekspor kelapa sawit ke beberapa negara Eropa turun. Ekspor ke Inggris turun sekitar 22 persen dan Belanda turun kira-kira 39 persen. Selain Inggris dan Belanda, ekspor kelapa sawit ke Italia, Jerman, Spanyol, dan Rusia juga turun. Menurut Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto, ekspor turun gara-gara kampanye hitam.

“Pemerintah menyiapkan litigasi ke World Trade Organization (WTO),” terang Kecuk. Jika upaya negosiasi tidak berhasil, RI akan mengadukan Uni Eropa (UE) ke WTO pada bulan depan. (agf/rin/ful/fin)

loading...
BERBAGI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.