Ngeri.. Siswa SDN 3 Cigorowong Cisayong Tasik Belajar di Bawah Atap Siap Roboh

199
0
Loading...

KABUPATEN TASIK – Selain atapnya rusak akibat tertimpa pohon, beberapa waktu lalu, ternyata para siswa SDN 3 Cigorowong Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya, harus belajar di bawah ancaman maut.

Betapa tidak, dua ruang kelas II dan III atapnya disangga bambu sejak dua bulan lalu, agar tidak roboh saat anak-anak belajar.

Sementara dua ruang kelas lainnya, yaitu kelas I dan kelas IV, rusak bagian atapnya karena tertimpa pohon tumbang, kemarin.

Baca juga : 2 Ruang Kelas SDN Cigorowong Cisayong Tasik Rusak Ditimpa Pohon
Baca juga : Wabah Corona, Kelelawar di Situ Panjalu Ciamis Diperiksa, Ini Hasilnya

Kepala SDN 3 Cigorowong, Ahmad Daryono membenarkan kondisi bangunan ruang sekolah tersebut.

Kata dia, ruang kelas II dan kelas III telah dipasangi bambu sejak dua bulan terakhir. Sebab, atap dua ruangan itu terancam roboh lantaran atap bangunan sudah miring dan selalu bocor ketika turun hujan.

“Kalau tidak ada bambu mungkin sudah roboh kang,” katanya kepada wartawan.

Menurut dia, kondisi atap rapuh ini sudah terjadi lama. Namun, tiang-tiang bambu itu baru dipasang tiamg sekira dua bulan belakangan.

Loading...

Ia menduga, kondisi itu disebabkan oleh konstruksi bangunan yang tidak kuat. Sebab, bangunan itu baru direhabilitasi pada 2013 lalu.

Ahmad menerangkan, tak hanya berdiam diri melihat kondisi itu, pihak sekolah telah membuat laporan melalui data pokok pendidikan (Dapodik) sejak setahun terakhir, yang diperbaharui setiap bulannya.

Dalam laporan itu, pihak sekolah menulis keadaan ruang kelas mereka dalam kondisi rusak berat.

Kendati demikian, hingga saat ini belum ada perhatian lebih dari pemerintah. Karena itu, sekira tiga bulan lalu pihak sekolah dan warga sekitar berinisiatif melakukan gotong royong untuk mengantisipasi ambruknya atap ruang kelas.

“Bambu itu dipasang secara swadaya oleh masyarakat. Alhamdulillah di sini masyarakat selalu merespon cepat membantu sekolah,” terangnya.

Meski tiang-tiang bambu telah terpasang di 2 ruang kelas yang dianggap rawan roboh, Ahmad menambahkan, para siswa dan guru masih melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dalam kondisi was-was. Apalagi jika turun hujan, ketakutan atap ruang kelas roboh semakin besar.

“Setiap belajar siswa dan guru tidak tenang. Tapi apadaya. Apapun yang bisa saya lakukan, sudah dilakukan. Jangan sampai anak-anak tidak belajar,” tambahnya.

Sedangkan 2 ruangan kelas yang rusak atapnya tertimpa pohon masih digunakan untuk proses KBM.

Para siswa di dua kelas itu harus belajar sambil melihat gurunya membersihkan sisa-sisa puing genting dan plafon yang roboh.

“Sementara kalau tidak hujan masih kita pakai. Namun kalau hujan, nanti siswa dipindahkan ke ruang yang ditopang bambu. Paling nanti kita buat sekat,” jelasnya.

Tukas dia, meski tak layak, empat ruang kelas itu dianggap masih bisa digunakan. Namun, ia juga akan mencari solusi jika kondisi ruang kelas di sekolahnya itu akan semakin memburuk. “Kalau sudah parah, pasti kita cari tempat lain yang dekat,” tukasnya.

 

Ia berharap, pemerintah dapat secepatnya melakukan perbaikan, mengantisipasi supaya kerusakan tak semakin parah.

“Saya mohon diperhatikan, karena ini sangat mengganggu kelancaran KBM,” harapnya.

Operator SDN 3 Cigorowong, Aris Riswandi menambahkan, hingga saat ini belum ada bantuan dari pemerintah untuk membenahi kondisi kelas yang rusak tersebut.

Sementara para siswa masih menggunakan ruangan itu untuk belajar karena tidak ada lagi ruangan kelas yang bisa digunakan.

SDN 3 Cigorowong ini merupakan sekolah satu-satunya di Kampung Sukamaju, Desa Sukamukti, Kecamatan Cisayong.

Ia mengaku telah berulang kali mengusulkan bantuan. Namun, hingga saat ini perbaikan belum juga terealisasi.

“Kita sudah benahi data dapodik, dari rusak ringan ke rusak berat, tapi belum juga diperbaiki. Malah yang diperbaiki sekolah yang masih bagus,” tutur lelaki yang juga mengajar Pendidikan Agama Islam di SD tersebut.

Aris khawatir, jika tak segera diperbaiki, SDN 3 Cigorowong akan roboh. Para siswa dan guru di sekolah itu juga sudah merasa tak tenang jika belajar di dalam ruang kelas.

Apalagi, saat ini telah memasuki musim hujan, di mana potensi kejadian bencana semakin bertambah.

(rezza rizaldi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.