Beranda Rakyat Garut Nunggak Iuran, Ijazah Ditahan Dua Tahun

Nunggak Iuran, Ijazah Ditahan Dua Tahun

80
BERBAGI

GARUT KOTA – Meski sudah dua tahun keluar dari SMAN 20 Garut, Fahriza (19) tidak memiliki ijazah. Pihak sekolah menahan ijazahnya dengan alasan dana sumbangan pendidikan (DSP) belum lunas.

Rahmawati (53), ibu Fahriza mengatakan ijazah anaknya ditahan pihak sekolah karena memiliki tunggakan iuran DSP sebesar Rp 3,4 juta. Dia menyayangkan sikap pihak sekolah yang tidak memberikan kelonggaran untuk membayar tunggakan.

“Pihak sekolah mewajibkan membayar iuran itu secara utuh jika ingin mendapatkan ijazah tersebut. Itu sangat memberatkan kami,” ungkap dia saat ditemui di rumahnya, di Kampung Sukaraja Desa Jatisari Kecamatan Karangpawitan Jumat (30/3).

Selama dua tahun, dia mengaku pernah beberapa kali melobi pihak sekolah agar mengeluarkan ijazah sang anak. Namun pihak sekolah berkukuh tidak memberikannya.

“Seharusnya pihak sekolah bijak. Kami bukannya tidak mau membayar. Tapi, memang belum ada uangnya. Kalau sudah ada kami pasti membayarnya,” tuturnya.

Dalam pertemuan terakhir, sekitar dua hari lalu, Rahmawati mengaku membawa uang Rp 2 juta ke sekolah. Uang itu ia pinjam dari tetangga. Namun pihak sekolah tetap meminta utang DSP langsung dilunasi seluruhnya.

“Kami mohon bantuannya. Harus bagaimana lagi kami berusaha,” pintanya.

Terpisah, Kepala SMAN 20 Garut Abdul Jalil membantah telah menahan ijazah salah satu anak didiknya selama dua tahun.

Menurut dia, keterlambatan penerimaan ijazah Fahriza karena kesahalahpahaman antara pihak sekolah dengan orang tua.

“Bohong itu, kalau kami dikatakan menahan ijazah. Ngapain menahan ijazah orang lain, tidak penting,” ujarnya saat dihubungi melalui saluran telepon.

Abdul menyatakan saat ini sekitar 90 persen orang tua dan warga sekolah berkategori tidak mampu. Sehingga tidak ada alasan bagi sekolah untuk memungut DSP dari mereka.

“Kami, satu-satunya sekolah di Garut yang tidak ada DSP tahunan. Jadi, tidak relevan (pernyataan Rahmawati, Red). Apa yang mesti kami tahan,” tandasnya.

Soal kasus Fahriza, ia mengakui orang tuanya sempat datang ke sekolah. Namun tidak bertemu dengannya langsung.

“Ini hanya miss komunikasi saja. Sebab orang tuanya tidak pernah menghadap saya,” katanya. (yna)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.