Beranda Lifestyle Kesehatan Nutrisi Sebagai Pencegah Pre-eklampsia

Nutrisi Sebagai Pencegah Pre-eklampsia

162
BERBAGI
Dr H Edy Triono SpOG MMKes

Angka kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi. Penyebab AKI terbanyak adalah pendarahan 28%, pre-eklampsia 24% dan infeksi 11%. Dr H Triono Eddy SpOG MMKes MHKes, dokter spesialis kebidanan dan kandungan menjelaskan kematian ibu dan anak diantaranya disebabkan status gizi, higiene atau kebersihan, sanitasi, kesadaran hidup sehat dan jangkauan serta mutu pelayanan kesehatan.

“Status ekonomi, pendidikan, ketidaktahuan, tradisi sosial budaya, geografis serta status reproduksi juga bisa menjadi faktor penyebab AKI,” ujar pria yang menjabat komisaris utama Rumah Sakit Prasetya Bunda Tasikmalaya ini Sabtu (31/3).
Menurut dr Triono, kematian Ibu yang disebabkan pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria. Yakni kondisi dimana terlalu banyak protein dalam air kencing akibat adanya kerusakan pada ginjal. Atau, edema akibat kehamilan setelah usia 20 minggu atau setelah persalinan. Bahkan setelah 24 jam post partum.
“Yang dimaksud hipertensi, dimana sistolik 140 mmhg atau lebih atau diastolik 90 mmhg atau lebih. Adapun penyebabnya belum diketahui pasti. Faktor resikonya bisa nullipara, penyakit vaskular kronik seperti DM, ginjal, infeksi maternal dan lainnya,” terang Dr Triono.
Pre-eklampsi bisa diketahui dengan melakukan tes diagnostik dasar. Diantaranya, pengukuran tekanan darah, analisis protein dalam urin, pemeriksaan edema, pengukuran tinggi fundus uteri atau bagian dari rahim yang terletak pada puncak rahim, serta pemeriksaan funduskopik untuk melihat adanya kelainan atau tidak.
Bisa juga dilakukan tes laboratorium dasar dengan evaluasi hematologik atau darah yang meliputi hematokrit, jumlah trombosit, morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi. Kemudian pemeriksaan fungsi hati meliputi bilirubin, protein serum, aspartat aminotransferase dan sebagainya.
Kemudian, pemeriksaan fungsi ginjal meliputi ureum dan kreatinin. Pre-eklampsia bisa dicegah dengan melakukan pemeriksaan antenatal alias pemerikasaan kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil.
“Selain itu, juga cukup istirahat, diet dengan konsumsi makanan yang tinggi protein, rendah lemak, tinggi serat. Pemenuhan gizi juga harus diperhatikan dengan makanan beragam, sehat dan seimbang, kemudian konsumsi suplemen multivitamin dan penambahan BB tidak berlebihan,” tuturnya.
Adapun penanganan pre-eklampsia diantaranya terapi simptomatis. Yakni terapi untuk menghilangkan atau meringankan gejala penyakit karena etiologi dan penyebab yang belum diketahui. Tujuan penanganan ini untuk mencegah penyebab eklampsia, mencegah gangguan fisik organ vital, melahirkan janin hidup, melahirkan janin dengan trauma sekecilnya.
“Jadi ada dua cara penanganan, yakni aktif dan konservatif. Aktif dengan segera mengakhiri masa kehamilan (terminasi), penanganan aktif apabila aterm atau hamil cukup bulan, gawat janin, eklampsia, hellp syndrom. Sedangkan penanganan dengan konservatif yakni ditunda sampai aterm,” terangnya.
Komplikasi terberat dari kondisi pre-eklampsia adalah kematian ibu dan janin. Karena itu, saat hamil nutrisi pada ibu hamil harus diperhatikan. Selama kehamilan berat badan bertambah 12,5 kilogram, volume cairan tubuh bertambah 6,5l, kebutuhan kalori 300 kkal dan asupan protein 51 gram per hari. Diet pre-eklampsia yang disarankan :1700, 1900, dan 2100 kkal dan ciri khas diet pre-eklamsi adalah memperhatikan asupan garam dan protein.
“Tujuan dari pengaturan diet pada preeklamsi adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi normal, mencapai dan mempertahankan tekanan darah normal, mencegah dan mengurangi retensi garam dan air, menjaga keseimbangan nitrogen, menjaga agar pertambahan berat badan tidak melebihi normal dan mengurangi atau mencegah timbulnya resiko lain atau penyulit baru pada saat kehamilan atau persalinan,” paparnya.
Namun, ada syarat yang harus diperhatikan. Diantaranya energi dan semua zat gizi cukup. Dalam keadaan berat, makanan diberikan secara berangsur sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan. Penambahan energi tidak melebihi 300 kkal dari makanan atau diet sebelum hamil. Kemudian, garam diberikan rendah sesuai dengan berat/ringannya retensi garam atau air, penambahan berat badan diusahakan dibawah 3 kg / bulan atau dibawah 1 kg / minggu, protein tinggi ( 1 ½ – 2 kg bb), lemak sedang berupa lemak tidak jenuh tunggal dan lemak tidak jenuh ganda.
Selain itu, vitamin cukup. Vit C dan B6 diberikan sedikit lebih banyak. Mineral cukup, terutama kalsium dan kalium. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan makan pasien dan cairan diberikan 2500 ml sehari pada saat ologuria. Cairan dibatasi dan disesuaikan dengan cairan yang dibutuhkan tubuh.
“Jadi makanan yang dianjurkan untuk ibu hamil diantaranya makanan rendah kandungan lemak (lemak tak jenuh, Red). Mengandung tinggi kalsium, susu khusus bumil untuk pemenuhan zat gizi menyeluruh, bumbu bawang putih, coklat sebagai selingan, sari buah untuk pemenuhan vitamin dan cairan serta makanan segar lebih diutamakan,” tutur Dr Triono.
Sebaliknya, makanan yang tidak diajurkan bagi ibu hamil adalah yang mengandung lemak jenuh, merangsang saluran cerna, tinggi sodium, garam dan yang diawetkan. (*/ais)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.