RSUD Klaim Aah Meninggal Akibat Sepsis

Nyamuk DBD Serang 55 Warga

16
RUMAH SAKIT. Suasana pelayanan pasien di kelas III B RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Rabu (6/2). Pihak RSUD menegaskan kematian Aah Komariah, warga Cicantel, Mulyasari, Tamansari, Kota Tasikmalaya bukan disebabkan DBD tetapi meninggal karena menderita penyakit sepsis.Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

TASIK – RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya mendiagnosa Aah Komariah (45), warga Cicantel Kelurahan Mulyasari Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun hasil analisa medis penyakit yang Aah meninggal yakni sepsis.

Wadir Pelayanan RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya dr Hj Rini Dwidarini mengatakan Aah datang ke RSUD dengan kondisi demam. Hasil diagnosa dokter RSUD, perempuan tersebut terjangkit DBD. Namun belum tergolong parah dan penanganan intensif pun dilakukan oleh petugas. “Memang diagnosa awal DBD grade 1 dan masih masa observasi, prosedur penanganan kita lakukan seperti melakukan antibiotik, injeksi dan lainnya,” ungkap dia.

Selasa sore (5/2) Aah meninggal dunia, namun demikian dari hasil pemeriksaan laboratorium RSUD. Meninggalnya Aah akibat efek dari penyakit sepsis, yakni penyakit infeksi berat yang menyerang saluran darah penderitanya. “Hasil lab (RSUD, Red) lebih condong karena sepsis,” tuturnya.

Disinggung kemungkinan DBD, Hj Rini meragukannya, meskipun didiagnosa menderita DBD. Karena kondisinya tidak begitu parah, Justru kondisi parah dari pasien akibat leukosit yang tinggi. “Waktu datang trombositnya memang sudah mengalami penurunan, tapi tidak parah,” katanya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Cecep Z Kholis mengaku sudah mendapat laporan terkait warga Tamansari yang meninggal tersebut. Pihaknya pun mengacu kepada hasil diagnosa RSUD. “Jadi bukan karena DBD, tapi karena sepsis,” tuturnya.

Asumsi masyarakat yang mengarah kepada DBD, kata dia, sangat wajar mengingat tren nasional saat ini. Bahkan pihaknya akan memiliki kecurigaan yang sama terhadap gejala-gejala demam. “Tenaga medis pun pasti mencurigai DBD karena sedang tren, karena itu patut diwaspadai,” katanya.

Selama Januari 2019, RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya sudah menangani 33 pasien DBD. Sedangkan catatan Dinkes di Kota Tasikmalaya terdapat 55 pasien penyakit akibat gigitan nyamuk tersebut.

Cecep menerangkan kerawanan DBD lebih tinggi di wilayah perkotaan. Selain karena lingkungan yang kotor, jenis nyamuknya pun memiliki karakteristik yang berbeda. Namun demikian wilayah pelosok pun bukan berarti bisa terbebas dari DBD. “Karena warga Kawalu pun ada yang menderita DBD,” tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, warga Kampung Cicantel Kelurahan Mulyasari Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya, Aah Komariah (45) diduga meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) sekitar pukul 18.30, Selasa (5/2).

Sebelumnya almarhum terlebih dahulu mengalami perawatan medis di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya.

Awalnya, Aah mengeluhkan sakit kepada suaminya Atop Hermawan (46), Senin (4/2). Kemudian, Aah dibawa berobat ke Puskesmas Tamansari namun tidak kunjung membaik.

Dari keterangan petugas puskesmas, almarhum disarankan untuk menunggu dua hari, sambil diberi obat rawat jalan. Pada malam harinya Aah menggigil dan mengeluh panas dingin.

“Setiba di rumah, malamnya malah panas dingin, kemudian muntah-muntah, saya kembali ke puskesmas lagi dan disarankan langsung ke rumah sakit untuk ditangani,” ujar Atop menceritakan kepada wartawan di sela proses pemakaman istrinya.

Akhirnya, kata dia, sekitar pukul 06.00 Selasa (5/2), dia membawa istrinya tersebut ke RSUD dr Soekardjo. Aah, langsung ditangani dan menunggu cukup lama hasil pemeriksaan dari laboratorium untuk diteliti penyakit yang diderita. “Ternyata dari hasil laboratorium, istri saya DBD. Kemudian tadi sekitar pukul 18.30 meninggal di ruang perawatan,” tuturnya seraya berpasrah.

Dia berharap di kampungnya bisa digalakkan kembali program pemberantasan nyamuk DBD. Sebab, tidak ingin warga lain mengalami nasib yang sama. “Harus ada penanganan dari Pemkot, supaya tidak terjadi kembali korban,” ucapnya.

Ketua RT/RW 05/08 Kampung Cicantel, Dulah mengaku kaget ada warganya yang meninggal akibat virus dari nyamuk dengue. Apalagi, selama ini sudah jarang adanya kegiatan fogging di lingkungannya. “Kita ingin ada penanganan, supaya warga lain tidak menyusul menjadi korban. Tadi kita juga kaget dengarnya karena DBD,” ujarnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr Soekardjo Budi Tirmadi sampai dengan pukul 21.40 belum memberikan keterangan. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.