Operasional IPAL Bisa 16 Juta Per Bulan

6

Wakil Ketua Bidang Pemerintahan Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Sukandar mengaku saat ini pengusaha kulit di Sukaregang sedang mengurus terkait pembuatan dokumen lingkungan, termasuk persoalan limbahnya.

“Sekarang para pengusaha ingin mengurus perizinan, termasuk persoalan limbahnya,” terangnya kepada wartawan.

Menurut dia, perusahaan yang sudah memiliki izin dan IPAL baru satu perusahaan. Khusus untuk pembuatan IPAL, belum semuanya memiliki karena pembuatannya sangat mahal.

“Harus dipahami buat IPAL tak murah. Bisa sampai Rp 700 juta,” ungkapnya.

Meski begitu, kata dia, para pengusaha sudah mulai membangun IPAL di tiap perusahaan.

“Sekarang pembangunannya sudah ada yang 80 persen, 90 persen sampai 100 persen juga ada,” ujarnya.

Terkait tiga IPAL yang dibangun pemerintah dan belum digunakan? Sukandar mengatakan pengusaha kulit tidak menggunakan alat tersebut, karena pemerintah tidak memberikan kejelasan terkait penggunaannya.

“Kami ingin pemerintah memberikan hak guna pakai kepada kami, supaya jelas. Karena anggaran operasional satu IPAL lumayan besar bisa memakan anggaran Rp 16 juta per bulan,” katanya.

Kalau ada kejelasan itu, kata dia, pengusaha di wilayah Sukaregang siap menggunakan alat tersebut dengan anggaran operasional dari pengusaha.

“Berikan kami surat hak guna pakai, biar ada kejelasan,” tandasnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.