Optimalkan Literasi di Masjid Kota Tasik

14
PEMATERI. Center for Study of Religion and Culture (CRSC) danYayasan Al-Misbah Al Mukhtariyah saat memaparkan pemahaman literasi kepada takmir, imam masjid dan khatib kemarin.

INDIHIANG – Masjid sebagai pusat peradaban harus bisa memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. Penerapan literasi dinilai penting untuk menjadikan masjid sebagai sentral dari ilmu bagi umat.

Center for Study of Religion and Culture (CRSC) UIN Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Al-Misbah Al-Mukhtariyah memberikan pemahaman literasi kepada takmir masjid, imam dan khatib dari Kota dan Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis serta Garut di Fave Hotel, Senin (26/11). Ketiga elemen tersebut menjadi awal penerapan literasi di masjid.

Sekretaris CSRC UIN Jakarta Zunaidi Simun menerangkan bahwa penerapan literasi di masjid cukup penting supaya bisa menyebarluaskan wawasan kepada masyarakat. Maka dari itu Takmir, Imam dan Khatib harus memiliki wawasan tentang kehidupan masyarakat. “Jadi tidak hanya sekadar menjadi tempat ritual ibadah saja,” terangnya.

Masjid juga harus menjadi tempat musyawarah atas polemik yang terjadi di masyarakat atau perencanaan dari langkah berdakwah. Karena musyawarah adalah salah satu poin amanat dari dasar hukum Republik Indonesia. “Karena segala sesuatu harus dimusyawarahkan,” terangnya.

Dari penelitian yang dilakukan CSRC di Banda Aceh, Palembang, Jakarta, Manado, Ambon, Mataram termasuk Tasikmalaya juga Garut, penerapan literasi di masjid masih minim. Maka dari itu fungsi masjid kurang optimal dalam kehidupan masyarakat.

“Ada beberapa tipologi masjid, yang masih lemah akan literasi itu di masjid-masjid pemukiman atau perumahan, padalah masjid harus menjadi majelis ilmu,” ujar pria yang juga peneliti di CSRC itu.

Target dari kegiatan yang diselenggarakannya yakni literasi bisa diterapkan oleh takmir, imam dan khatib. Mereka didorong supaya bisa meramaikan masjid melalui kegiatan-kegiatan positif dengan menyesuaikan kehidupan masyarakat zaman sekarang.
“Lebih bagus jika masjid didukung perpustakaan untuk menambah wawasan takmir, imam dan khatib,” tuturnya.

Ada pun materi yang ditekankan dalam kegiatan tersebut yakni tentang Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam Din Assalam, Prinsip musyawarah dalam demokrasi, Pengamalan amar maruf nahi munkar, strategi dakwah untuk kaum milenial dan menulis khotbah persuasif. Kegiatan berlangsung selama tiga hari yakni 26 – 28 November.

Pimpinan Yayasan Al-Misbah Al-Mukhtariyah Asep M Tamam sebagai mitra lokal CSRC mengatakan bahwa literasi di masjid berfungsi untuk mencegah perpecahan di masyarakat. Karena masjid bisa memberikan pemahaman yang bijaksana dalam menyikapi berbagai perbedaan perspektif atas sebuah informasi. “Jadi umat itu semakin nyaman, tidak terprovokasi, tidak terpecah dan menjalin kesatuan dalam perbedaan,” terangnya.

Maka dari itu penerapan literasi di masjid dipercaya bisa mencegah perpecahan antar masyarakat. Sebagaimana diketahui saat ini warga mudah diprovokasi yang menimbulkan konflik. “Apalagi Indonesia yang hari ini cukup terancam oleh suhu dunia sosial dan politik,” ujarnya. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.