Jais Darga Namaku

Orang Indonesia Pertama yang Punya Galeri Seni di Paris

24
DISKUSI. (Kanan ke kiri), Ahda Imran, Presiden Beranda 57 Bode Riswandi dan Jais Darga berdiskusi di Ruang Asyik D’Sugar Jalan BKR, Jumat (8/2). Firgiawan / Radar Tasikmalaya

TAWANG – Nama Jais Darga mungkin sudah tidak asing di telinga khalayak yang berkecimpung di dunia seni rupa. Seorang art dealer perempuan pertama dari Indonesia yang sudah melambungkan di beragam lelang lukisan maupun pameran seni rupa internasional itu dikenal atas kesuksesannya.

Namun, di balik itu semua, terdapat berbagai macam belantara peristiwa yang dramatik dan mencengangkan. Hal tersebut menjadikannya sebagai seseorang yang diperhitungkan di dunia seni rupa. Begitu penuturan Presiden Beranda 57, Bode Riswandi dalam diskusi tentang novel biografi Jais Darga Namaku di Rumah Asyik D’Sugar Jalan BKR, Jumat (8/2).

Bode menganalisis, dalam novel berlatar belakang biografi ini sejak awal sang penulis Ahda Imran sudah menyuguhkan konflik sebagai pengantar. Jauh sebelum Jais lahir, gerombolan di Jawa Barat tepatnya Kabupaten Garut, sedang memainkan peranan dalam peta politik Indonesia. “Mengapa keluarga Jais menjadi bagian menarik untuk diceritakan dalam kasus ini? Inilah hipotesis, bahwa setiap novel yang berlatar belakang biografi, harus mempunyai sesuatu yang luar biasa untuk diceritakan,” tuturnya.

Baginya, buku tersebut terbilang sulit dipisahkan antara kisah nyata atau fiksi. Jais telah memilih orang tepat dalam menuliskan biografi tentang dirinya itu melalui sentuhan tangan Ahda Imran. “Saya berpikir tidak semua orang bisa diangkat menjadi teks yang hebat, jika tak punya latar belakang hebat. Ini kepiawaian Ahda yang mana menceritakan dulu siapa yang melahirkan Jais,” ujar dia.

Penulis Jais Darga Namaku, Ahda Imran menggarap buku tersebut sekitar 3,5 tahun. Baginya, seorang Jais penting dan menarik untuk dibukukan karena selama ini belum pernah ada art dealer internasional asal Indonesia, apalagi seorang perempuan asli Jawa Barat. “Ini yang penting. Orang pertama yang mempunyai galeri permanen di Paris. Orang Indonesia pertama yang bisa membawa karya Picasso, Marquise dan lain-lain. Orang Indonesia yang bisa memamerkan secara permanen karya seni asal Indonesia di Paris,” ujarnya membeberkan.

Sederet kebanggaan tersebut sudah diketahui khalayak saat ini. Namun, tidak semua mengetahui apa saja yang sudah dialami Jais hingga bisa seperti sekarang. “Itu yang saya ingin bongkar. Dia sekarang dikenal sebagai Jais yang begitulah, tetapi tidak pernah dilihat sisi manusianya. Apa yang dilalui sebagai seorang perempuan, ibu. Orang melihat kariernya saja saat ini seperti apa,” ucapnya.

Ahda bercerita dalam bukunya tersebut ia meramu teks bagi tiga tataran pembaca. Orang yang belum mengenal, mengenal, bahkan dekat dengan figur Jais Darga. Dengan demikian, kesulitan dalam penulisan novel itu tidak dipungkiri. Apalagi, ketika Jais kehilangan mood saat membaca beberapa draf tulisan, sehingga membuat emosinya meledak kemudian sulit melanjutkan penggalian data.

Di samping itu, ketika menceritakan hal sensitif terutama menyangkut kisahnya dengan beberapa orang terdekat tidak mudah. Ahda mengaku harus pandai-pandai untuk tidak memicu konflik baru agar tidak menyinggung atau berdampak ke nara sumbernya terkesan negatif bagi orang lain. “Itu tantangan menulis biografi, mungkin dalam beberapa hal ada persoalan antara dia dengan orang dekatnya, saya menormatifkan itu,” ceritanya.

Dalam penggalian atau riset menulis novel itu, Ahda harus mengunjungi beberapa tempat yang menjadi alur cerita Jais. Seperti Paris, Amsterdam, Bali, Limbangan dan Bandung. Bahkan, dia tak segan bertemu langsung pelaku bisnis seni rupa untuk mempelajari pasar seni rupa di Paris ketika era 90-an. Termasuk masa kecil dan remaja Jais yang dibesarkan di lingkungan Bandung tahun 70-an. “Di buku ini Jais Darga adalah teks. Buku ini bukan tentang Jais, tetapi pengalaman saya mengenal Jais Darga,” ujarnya menyimpulkan.

Sementara itu, Jais Darga mengaku syok saat membaca novel itu. Dia baru mengenali diri sendiri yang awalnya seolah bukan cerita hidupnya. Kegetirannya di masa lalu, sebagai cambuk motivasi untuk menjadikannya kuat menatap dunia. Berlatar belakang keluarga menak Sunda, bukan alasannya untuk pasrah akan kehidupan. “Saya titip kepada kaum hawa, kesakitan itu harus jadi motivasi kita untuk maju dan sukses. Jangan menyerah, jangan ragu,” ucapnya.

Dia menitipkan kaum perempuan tidak boleh mengasihani diri sendiri. Menyikapi permasalahan hidup, jangan merasa paling menderita. “Jangan pedulikan bagaimana kita di pandang orang,” kata dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.