Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

P2TP2A Imbau Pengguna Medsos Ramah Anak

104
0
ISTIMEWA JENGUK KORBAN KEKERASAN. Ketua P2TP2A Kabupaten Garut Hj Diah Kurniasari Gunawan mengunjungi anak korban kekerasan orang tua yang saat ini tinggal bersama gurunya di Perumahan Cempaka Kecamatan Karangpawitan Selasa (27/2).

KARANGPAWITAN – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Hj Diah Kurniasari Gunawan mengimbau masyarakat yang menggunakan media sosial lebih ramah anak, dalam membagikan foto-foto anak korban kekerasan dan anak yang berhadapan dengan hukum.

“Saya lihat masyarakat pengguna media sosial masih sering membagi foto-foto anak-anak korban kekerasan atau anak berhadapan dengan hukum tanpa editing. Terutama bagian wajahnya. Kasihan mereka,” ucap Diah usai mengunjungi anak korban kekerasan orang tua yang saat ini tinggal bersama gurunya di Perumahan Cempaka Kecamatan Karangpawitan Selasa (27/2).

Seperti halnya kasus yang menimpa anak yang ditengoknya, kata dia, setelah menjadi korban kekerasan dari orang tuanya dengan disetrika bagian kakinya, foto dan video anak tersebut menjadi viral di media sosial.

“Kalau wartawan ngambil foto dan gambar anak korban kan sebelum ditayangkan di medianya wajah anaknya diblur, jadi tidak terlihat. Kalau di medsos kebanyakan tidak diedit, jadi kasihan anaknya ke depannya,” kata dia.

Diah mengakui viralnya kasus sang anak memang ada sisi positifnya. Dimana, akhirnya banyak pihak yang merasa peduli dan memberi bantuan pada anak tersebut. Namun, jika wajah sang anak dibuat samar pun dalam foto atau video tentunya tidak akan mengurangi niatan mereka yang mau peduli. “Kan intinya bukan liat wajah anaknya. Tapi peduli pada apa yang dialami oleh sang anak,” terangnya.

Diah menegaskan, sebagai ketua P2TP2A Kabupaten Garut dirinya memiliki kewajiban untuk memperhatikan tumbuh kembang anak yang saat ini jadi korban kekerasan ibunya. Ke depan, pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu untuk kepentingan masa depan serta hak-hak dasar anak.

Sebelumnya, seorang siswa kelas 1 salah satu sekolah dasar di Kecamatan Karangpawitan menjadi korban kekerasan orang tuanya, dengan cara disetrika bagian pahanya. Kasus ini terungkap setelah guru sekolah sang anak mendapati anak tersebut tidak mau mengikuti upacara pagi dengan alasan kakinya sakit. (yna/*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.