Sehari Produksi 120 Ribu Obat PCC Jadi Ancaman Serius Bagi Anak Muda

Pabrik Sumpit di Kawalu Kota Tasik yang Memproduksi Pil Setan Merupakan Jaringan Internasional

182
0

TASIK – Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama TNI/Polri berhasil mengungkap jaringan internasional peredaran narkoba jenis obat PCC atau paracetamol, caffeine dan carisoprodol di Kampung Awilega Kelurahan Gunung Gede Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya, Selasa (27/11).

Diketahui dalam sehari, para pelaku bisnis barang haram berkedok industri pembuatan sumpit itu bisa memproduksi hingga 120 ribu butir obat PCC.

Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Pol Drs Arman Depari menjelaskan pengungkapan ini bermula ketika muncul informasi adanya distribusi obat PCC di pulau Jawa. Pihaknya pun melakukan penyelidikan berkolaborasi dengan Polri.

“Setelah beberapa minggu kita selidiki, ternyata memang benar ada produksi pembuatan PCC,” ujarnya dalam ekspos, Rabu (27/11).

Hasil pendalaman, kata Arman, petugas berhasil memetakan PCC diproduksi di Kota Tasikmalaya.

Kemudian produk yang sudah jadi didistribusikan ke gudang di wilayah Purwokerto. “Lalu kita lakukan penggerebekan di tiga lokasi sekaligus,” katanya.

Tiga lokasi yang digerebek yakni Pabrik Sumpit di Kota Tasikmalaya, dimana petugas mengamankan tiga orang yakni Muhamad Joko Pamungkas (24), Hadi Eriyanto (39) dan Sugiarto (38). Di lokasi polisi mendapati PCC dan obat-obat lain dengan jumlah yang belum terhitung ditambah mesin cetak obat, mesin mixing, oven, alat press dan kompresor. “Di sini mereka memproduksi obat PCC,” ujarnya.

Selain itu, tambah Arman, penggerebekan pun dilakukan di sebuah rumah makan di Jl Yos Sudarso KM 07 Kabupaten Kebumen. Dimana petugas menangkap Deni Primadani Putra (25), Eri Choerudin (24), Yohan Efian (27) dan Agus Munajat (57). Di lokasi petugas mengamankan barang bukti berupa 60 ribu butir PCC.

Terakhir, di sebuah gudang yang berlokasi di Jalan Patimura I Desa Buntu Kecamatan Cilacap Kota Cilacap. Dimana petugas menangkap Setiono (62) dan Nurjamal (25). Petugas juga mendapati 43 dus berisi 1,29 juta butir PCC.

Jumlah total PCC yang diamankan diestimasikan mencapai 2 juta lebih, dengan calon tersangka sebanyak 9 orang.

Namun, pihaknya masih melakukan pendalaman mengejar kemungkinan pelaku lain yang terlibat. “Kami masih dalami, para pelaku pun belum bisa kami jelaskan peran-perannya,” papar Arman.

Selain itu, di Kota Tasikmalaya petugas juga mengamankan empat unit mobil jenis Daihatsu Grandmax Luxio bernopol R 9285 LD dan B 9180 VCB, serta Mitsubishi Delica B 1466 FOU dan Honda CRV F 55 BM yang digunakan sebagai operasional para pelaku.

Diketahui, para pelaku sudah memproduksi PCC sekitar 1 tahun di Kota Tasikmalaya. Hasil produksinya, dikirim ke Gudang Purwokerto dan Cilacap berlanjut ke Surabaya lalu dikirim ke Kalimantan dan Sulawesi. “Akhirnya penjualan balik lagi ke Jawa,” terangnya.

Salah satu bahan pembuatannya, yakni menggunakan carisoprodol, yang merupakan barang langka dan dimungkinkan dipasok dari luar negeri. Maka dari itu, Arman menduga pabrik PCC ini merupakan bagian dari jaringan internasional. “Karena bahan pokoknya tidak diproduksi di Indonesia,” katanya.

Wadir Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri Kombes Pol Krisno Halomoan Siregar menegaskan PCC bukan lagi obat keras biasa. Karena salah satu kandungannya yakni caristoprodol sudah masuk kategori narkotika.

“Di Permenkes Nomor 44 Tahun 2019, caristoprodol (kandungan PCC, Red) sudah ditetapkan sebagai narkotika golongan 1,” ujarnya.

Tahun 2017, kata Krisno, pihaknya pernah menemukan beberapa pabrik serupa di wilayah Jawa Tengah. Maka dari itu, dia menganalisa Kota Tasikmalaya memang sengaja dipilih karena jaringan ini masih berkaitan dengan pelaku-pelaku lama.

“Jadi jalur selatan ini bukan ketidaksengajaan, karena dari sini kemudian dikirim ke Purwokerto. Apalagi Kota Tasik ini merupakan daerah transit ke daerah lain,” tuturnya.

BUKAN YANG PERTAMA KALI

Kasus penggerebekan obat PCC sendiri bukan pertama kali terjadi di Tasikmalaya. Pada 5 Desember 2017 lalu BNN Pusat pernah mengamankan SA alias Ronggo, warga asal Jawa Tengah yang bermukim di Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya.

Penangkapan itu dilanjutkan dengan penggeledahan tempat tinggal Ronggo yakni sebuah rumah mewah di perkampungan Kecamatan Pagerageung. Dalam penggeledahan yang dilakukan saat itu, petugas menyita 5.535 butir obat PCC berwarna biru.

Rumah tersebut diketahui hanya merupakan gudang untuk transit distribusi PCC saja. Sementara saat itu pabrik pembuatannya berada di wilayah Semarang. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.