Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

4.1%

19.7%

8.1%

68.1%

Pandemi Corona, Pabrik Sari Kelapa di Ciamis Terancam Bangkrut

116
0
BEKERJA. Pekerja pabrik pengolahan sari kelapa menjadi bahan mentah nata de coco membuat adonan, Kamis (20/8).

CIAMIS – Pandemi Covid-19 berdampak terhadap berbagai bidang usaha. Tak sedikit sektor usaha yang harus gulung tikar akibat meluasnya wabah virus corona di Indonesia.

Salah satunya adalah pabrik pengolahan sari kelapa atau bahan pembuatan nata de coco di Desa Pamalayan Kecamatan Cijeungjing yang terancam bangkrut karena sepinya order.

Baca juga : Pilkades Serentak Ciamis Ditunda, DPT Berubah Lagi

Pengurus Pabrik Sari Kelapa Aneira (35) mengatakan, pandemi yang berlangsung berbulan-bulan ini cukup berdampak terhadap berlangsungnya usaha pengolahan sari kelapa yang merupakan bahan nata de coco, terlebih terhadap omzet yang sudah tidak sebanding dengan operasional.

“Biasanya memproduksi bahan mentah nata de coco sebanyak 8.000 lembar. Namun sekarang hanya 2.000 lembar saja. Karena pemesan perusahan besar kemasan nata de coco menurun, bahkan stok barang di pabrik busuk karena minimnya pemesan,” ujarnya kepada Radar, Kamis (20/8).

Kata dia, dalam sehari banyak stok membusuk dan membuat pabrik rugi. “Sehari yang rusak atau busuk mencapai 500 lembar,  kalau dinominalkan Rp 800.000,” ujarnya, menjelaskan.

Selain itu, kata dia, pembayaran mingguan bagi para pekerja pun terkena imbas. Karena dari jumlah 30 pekerja harus dibagi dua, sehingga hanya mendapatkan Rp 150.000. Padahal biasanya Rp 300.000.

“Jadi dampak dari pandemi ini pabrik mengalami kerugian dan pendapatan karyawan menurun,” katanya.

Lanjut dia, pihaknya mencoba mengajukan bantuan kepada pemerintah untuk karyawan atau stimulan bagi perusahaan, namun tidak ada realisasi.

“Kalau seperti ini bantuan Covid-19 tebang pilih, karena kami dari sisi pabrik dan karyawan tidak mendapatkannya,” ujarna.

Baca juga : Persiapan KBM Tatap Muka di Ciamis, Guru Jalani Tes PCR

Aisah (45), salah satu pegawai pabrik mengakui ada penurunan upah yang diterimanya selama pandemi. Namun, ini masih beruntung karena tidak ada pemberhentian.

“Kami sangat menyadari kondisi pabrik kekurangan pesanan. Namun saya bersama teman-teman berharap ada bantuan,” harapnya. (isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.