Panitia Reuni 212 Klaim 8 Juta Massa, Polisi Sebut 100 Ribu, Siapa Mulut Besar?

270

JAKARTA – Jumlah massa aksi reuni 212 tahun ini diklaim oleh pihak panitia jauh melebihi jumlah aksi 212 yang digelar pertama kali pada 2016 lalu.

Aksi 212 yang menuntut pemenjaraan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas tuduhan penistaan agama itu disebut mencapai tujuh juta orang.

Kali ini, aksi yang menghadirkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan itu berjumlah delapan juta orang.

Demikian disampaikan Ketua Ketua Panitia Reuni 212 Bernard Abdul Jabbar, Minggu (2/12/2018).

“Data kami yang hadir ini bahkan melebihi dari pada Aksi 212 yang dua tahun lalu,” kata Bernard di kawasan Monas, Jakarta Pusat.

Bernard mengklaim, Reuni 212 diselenggarakan bukan untuk mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

Namun, dirinya mengaku dan tidak menampik jika mempunyai pandangan pribadi dalam Pilpres 2019.

“Acara ini supaya tetap terjalin ukhuwahnya. Karena masing-masing juga punya sikap pokitik, masing-masing punya pilihan, silakan saja,” ujar Bernard.

Bernard menyatakan, pihaknya sama sekali tidak mengarahkan para peserta aksi untuk memilih Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 mendatang.

“Artinya arah politik dari 212 ini sudah jelas, kembali lagi ke masing-masing,” tegasnya.

Bernard berkilah, apa yang disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra dalam pidaronya adalah murni sebagai bentuk dukungan atas aksi tersebut.

Sebaliknya, pihaknya menyatakan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf sama sekali tak mendukung acara tersebut.

“Yang enggak mendukung, ya tidak kita undang, seperti Kiai Ma’ruf Amin,” jelasnya.

Atas alasan itu pula, undangan untuk Presiden Jokowi pun akhirnya dibatalkan di detik-detik akhir.

“Karena dia tidak mendukung dan bahkan mengupayakan untuk tidak hadir pada reuni ya percuma kita undang juga. Mubadzir undangannya,” sambungnya.

erkait jumlah massa aksi tersebut, pernyataan jauh berbeda diungkap Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Dalam hitungan pihaknya, massa aksi reuni 212 tahun ini jauh sangat sedikit jika dibandingkan dengan sebelumnya.

Hitungannya, tidak sampai jutaan. Tapi hanya di kisaran 100 ribu orang saja. Perhitungan itu didapat pihak kepolisian dari lokasi.

“(Massa yang datang) hanya 100 ribu,” kata Argo kepada wartawan di Jakarta, Minggu (2/12).

Saat ditanya dari mana massa itu, mantan Kabid Humas Polda Jawa Timur itu enggan merinci.

Hanya saja, Argo menyebut kegiatan aksi teresbut berjalan dengan lancar, aman dan tertib.

“Yang pentig suasana kondusif. Semua kegiatan hari ini berjalan dengan baik dan lancar,” lanjutnya.

Karena itu, sambung perwira Polri dengan tiga melati itu, pihaknya mengapresiasi jalannya aksi.

“Terima kasih kepada masyarakat yang ikut serta membantu jalannya kegiatan hari ini,” sambungnya.

Diberitakan PojokSatu.id sebelumnya, aksi reuni 212 tahun ini dianggap sudah mulai melempem.

Demikian disampaikan pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, Minggu (2/12/2018).

“Sekarang gairahnya tidak ada,” katanya.

Ia menilai, gerakan tersebut juga sudah kehilangan gairahnya jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Sebab, grand isunya jauh berbeda seperti dua tahun silam menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Dulu, di Pilkada DKI 2017 itu yang dilawan Ahok seorang non muslim dan pribumi yang keseleo lidah soal Almaidah 51. Jadi momentumnya tepat,” beber Karyono.

Pada dua tahun lalu, lanjut Karyono, hampir seluruh ormas Islam termasuk ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga turun dalam aksi tersebut.

Namun hari ini, hal itu sudah tidak lagi terjadi.

“Kalau dulu nyaris didukung oleh seluruh ormas termasuk NU dan Muhammadiyah. Dan Kiai Ma’ruf Amin juga dukung,” demikian Karyono.

(jpg/ruh/pojoksatu)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.