Panjalu Merawat Tradisi Nyangku

37
PEMBERSIHAN. Benda-benda pusaka peninggalan Prabu Borosngora dibersihkan pada upacara adat Nyangku di Alun-Alun Panjalu, Senin (3/12). (Iman S Rahman/adartasikmalaya.com)

PANJALU – Ratusan pusaka peninggalan Prabu Borosngora, penyebar agama Islam di Kabupaten Ciamis dibersihkan pada upacara adat Nyangku di Taman Borosngora Alun-Alun Panjalu, Senin (3/12).

Dalam upacara adat itu, benda-benda peninggalan Raja Panjalu dikeluarkan dari Pasucian Bumi Alit, museum tempat penyimpanan benda pusaka. Pusaka-pusaka tersebut lalu diarak oleh keturunan-keturunan Raja Panjalu dan warga terpilih.

Di sepanjang jalan, mereka membacakan selawat diiringi musik gembyung menuju pulau di Situ Lengkong Panjalu atau disebut Nusa Gede.

Setelah selesai pengajian dan berdoa di makam Raja Panjalu, pusaka tersebut diarak kembali ke Taman Borosngora. Di taman ini dilaksanakan ritual jamas atau pembersihan benda pusaka.

Ada tiga benda pusaka yang dicuci secara simbolis. Yakni pedang Zulfikar yang diberikan Sayidina Ali bin Abi Thalib kepada Prabu Borosngora, Kujang Panjalu dan Keris Stok Komando.

Setelah dicuci, benda peninggalan para leluhur itu diolesi minyak khusus kemudian dibungkus kain putih dan disimpan kembali ke Pasucian Bumi Alit.

Menurut Ketua Yayasan Borosngora Dr H Johan Wiradinata MSi, upacara adat Nyangku sudah dilaksanakan secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu.

Tradisi ini tidak lain untuk mengenang pemerintahan Prabu Borosngora yang telah berjasa menyebarkan agama Islam. Makanya, Nyangku digunakan sebagai salah satu media syiar Islam bagi masyarakat Panjalu.

“Untuk melestarikan budaya, untuk mupusti bukan untuk migusti,” jelas Johan.

Semua benda pusaka peninggalan Raja Panjalu, kata dia, dibersihkan. Hanya saja yang diperlihatkan secara simbolis ke masyarakat hanya tiga.

Yakni Pedang Zulfikar, Kujang Panjalu dan Keris Stok Komando. Pusaka-pusaka ini dicuci menggunakan cai karomah tirta kahuripan yang diambil dari mata air di berbagai tempat.

Yakni dari Situ Lengkong, Karantenan Gunung Sawal, Kapunduhan (Makam Prabu Rahyang Kuning), Cipanjalu, Kubang Kelong, Pasanggrahan, Bongbang Kancana, Gunung Bitung dan Ciomas.(isr)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.