Paradigma Baru Inspektorat

56
0
KOMPAK. Inspektur Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya Ir H Tarlan MPd (kiri) bersama Irban II Rahman (tengah) dan Fungsional Auditor Inspektorat Ryan Sunandar (kanan) menjelaskan tugas pokok Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya di Studio Radar TV Kamis (19/12). FATKHUR RIZQI / RADAR TASIKMALAYA

CIHIDEUNG – Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya mempunyai tugas pokok membatu Kepala Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya membina dan mengawasi pembangunan fisik ataupun nonfisik dari organisasi pelaksana daerah (OPD).

Inspektur Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya Ir H Tarlan MPd mengatakan sebelum menjadi Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya pada 2019, instansi yang dipimpinnya bernama Badan Pengawas Daerah Kota Tasikmalaya dan Inspektorat Kota Tasikmalaya.

Seiring berubah menjadi Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya, instansi tersebut memiliki tugas melaksanakan pembinaan dan pengawasan. Mulai perencanaan, penganggaran, pengadaan barang dan jasa, pelaksanaan, evaluasi hingga pelaporan. Oleh karena itu, saat ini ada perubahan cara pandang baru atau paradigma baru, yaitu dari segi pengawasan. Dulu, pihaknya adalah watch dog, namun sekarang quality assurance. Ketika OPD dulu saat diperiksa namanya objek pemeriksaan, sekarang menjadi client, maka tanpa adanya risiko penyimpangan dan tanpa adanya risiko kegagalan dengan mengarahkan kerja itu on the track.

“Sekarang itu berubah lebih kepada bagaimana memberikan keyakinan kepada OPD untuk mau berkonsultasi ke Inspektorat, sehingga nanti tanpa adanya penyimpangan dan tanpa ada risiko kegagalan dengan mengarahkan kerja itu on the track (sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku, Red),” kata dia kepada Radar saat Talkshow Bincang Radar di Radar TV, Kamis (19/12).

Agar tidak ada penyimpanan dari OPD, Inspektorat, kata Tarlan, mela­kukan upaya pencegahan. Pihak­nya melakukan pembinaan dan penga­wasan sejak OPD melakukan peran­cangan, penyusunan anggaran, pemerik­saan pengadaan atau tender sesuai dengan sesuai peraturan perun­dangan-undangan sampai pelaporan.


“Dengan pelaksanaan pembinaan ini mampu mendeteksi dini dengan menghasilkan tren positif, semakin kecil tingkat penyelewengan sehingga kerugian uang negara bisa ditekan,” ujar dia.

Menurut Tarlan, seluruh OPD Kota Tasikmalaya setiap tahunnya melakukan pembangunan fisik dan nonfisik. Jumlah dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) 3000. Dari jumlah tersebut, pihaknya mendampingi dan mengawasi pelaksanaan anggaran yang memiliki risiko tinggi. Inspektorat melihat besaran anggaran, karakter kegiatan dan dampak kegiatan.

Bagi pelaksanaan anggaran yang memilki risiko sedang dan risiko sedikit, diarahkan untuk selalu berkonsultasi ke Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya.

Inspektorat pun memfasilitasi masyarakat untuk diberikan pelayanan terbaik dengan begitu OPD mampu memberikan pelayanan terbaik. Itu menjadi zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan siap melayani publik.

Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya, kata Tarlan, bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya melaksanakan pendidikan antikorupsi.

“Bagaimana ke depannya anak sekarang harus lebih baik dengan diperkenalkan pendidikan antikorupsi sejak dini sehingga menumbuhkan perbuatan jujur, disiplin, dan tanggung jawab,” harapnya.

Fungsional Auditor Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya Ryan Sunandar ST MT menjelaskan OPD sudah mulai menyadari soal paradigma baru Inspektorat Daerah Kota Tasikmalaya sebagai quality assurance. Mereka berkunjung ke Inspektorat untuk berkonsultasi dan terbuka terhadap permasalahan.

“Jadi teman-teman OPD yang lain su­dah mulai terbuka oleh kami, baik se­cara formal ataupun lewat media sosial (Whatsapp, Red) sehingga se­dapat mungkin mendapatkan advice informasi secara penuh,” katanya.

Hasilnya, kata Ryan, beberapa indikator keberhasilan Kota Tasikmalaya yaitu mengenai pelaporan keuangan pemerintah daerah sudah wajar tanpa pengecualian (WTP) dan indikator akuntabilitas kinerja yang dinilai dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara yang awalnya di level sakit, sekarang naik BB (baik sekali) dengan skor di atas 70.

Senada, Inspektur Pembantu (Irban II) Rahman SSos MSi menambahkan bahwa layanan Inspektorat –quality assurance— membina dan mengawasi OPD agar mereka on the track.

Inspektorat membuka konsultasi dengan proses pendampingan dan memberikan advice (nasihat) kepada klien (OPD).

Pendampingan, kata dia, dilakukan se­­minggu sekali yaitu pada Jumat. Nama­­nya, layanan konsultasi Jumat. “Dengan adanya konsultasi ini semacam alat supaya mendeteksi OPD secara dini agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya. (riz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.