Pasar Hewan Manonjaya Diserbu Sapi dari Jawa, Protokol Kesehatan?

129
0

KABUPATEN TASIK – Menjelang Idul Adha di akhir bulan ini, kondisi Pasar Hewan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya kembali ramai.

Terpantau radartasikmalaya.com, Rabu (08/07) pagi, aktivitas di lokasi sangat ramai.

Terlihat lalu-lalang ratusan pedagang sambil membawa hewan qurban sapi.

Informasi dari pihak UPTD Pasar Manonjaya kondisi pasar memang terbuka untuk pedagang dari mana saja.

Tak hanya para pedagang lokal dari wilayah Tasik seperti Cibalong, Cikalong dan Sukaraja, bahkan dari Ciamis, Banjar dan Pangandaran hingga Banjarnegara, Madura serta Jember pun menyerbu Pasar Hewan ini.


Tampak pula para pedagang kebanyakan tak memakai masker. Pihak UPTD mengaku sudah mengingatkan mereka untuk mentaati protokol kesehatan.

Tapi di dalam lokasi pasar terlihat sedikit pedagang yang mengenakan masker.

“Bahkan sebelum masuk pasar sudah kita semprot dulu mereka (pedagang serta sopirnya) dan sapinya. Kita kasih masker juga. Tapi ya kalau sudah di dalam (tak pakai masker, Red) ya gimana lagi,” ujar PLT Kepala UPTD Pasar Hewan Manonjaya, Eka Rostika Ningsih kepada radartasikmalaya.com.

“Tapi pas Covid masih PSBB kita sempat tutup beberapa bulan. Pas Idul Adha hari ini memang kita buka lagi sedang puncak-puncaknya. Ada 300 ekor hari ini yang masuk dari mana-mana. Ada sekitar 4 bandar dari Jawa,” sambungnya.

Terang dia, walaupun demikian kalau secara penjualan dibandingkan tahun lalu menurun hampir 50 persen.

“2019 sampai 2020 secara grafik turun penjualan alias daya belinya, sekitar 40 persen. Yang berat memang pas PSBB kemarin. Turun hingga 60 persen,” terangnya.

Kalau masalah harga jual tiap tahun naik sebesar 20 persen. Rata-rata sapi dijual Rp 19 jutaan sampai dengan Rp 22 jutaan.

“Kalau persaingan antar produk lokal dan luar ya itu kan perdagangan. Kita tak bisa membendung dari luar karena sudah tak PSBB,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa pedagang lokal mengakui bahwa protokol kesehatan pas Covid tetap dilakukan walaupun terkadang mereka lupa tak pakai masker saat beraktivitas di dalam pasar.

Namun, mereka hanya mengeluhkan persaingan antar pedagang.

“Kalau protokok kesehatan kan ini namanya pasar bebas. Dari mana saja memang bisa masuk. Tapi antar jualan sapi yang kami kritisi karena sapi dari Jawa mulai masuk ke sini. Itu bisa membuat kami tambah rugi. Sudah pas kemarin PSBB kami turun omset sampai 60 persen,” tutur Ridwan (40), salah seorang pedagang sapi.

Dia berharap, yang pasti kalau soal protokol kesehatan itu kembali ke dirinya masing-masing pedagang.

Namun, kalau bisa hal yang paling dikeluhkan para pedagang lokal adalah pihak UPTD bisa membatasi pedagang yang jualan dari Jawa masuk ke Pasar Hewan.

(rezza rizaldi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.