Pascabanjir Warga Garut Selatan Kembali ke Rumah, Butuh Air Bersih & Obat-obatan

59
0
KERJA BAKTI. Masyarakat di Kampung Leuwisimar Desa Mandalakasih Kecamatan Pameupeuk membersihkan lumpur pascabanjir bandang, kemarin. Yana taryana / rakyat garut

PAMEUNGPEUK – Komandan Kodim 0611/Garut Letkol CZi Deni Iskandar memastikan seluruh warga yang terdampak banjir bandang di beberapa wilayah di selatan Garut sudah meninggalkan tempat pengungsian.

Warga memilih pulang ke rumahnya masing-masing setelah kondisi air surut.

Baca juga : 2 Sungai Meluap, 6 Kecamatan di Garut Banjir, Bupati kirim 10 Ton Beras

Warga memilih pulang untuk membersihkan rumah. “Di pengungsian juga tidak banyak. Hanya lima rumah yang hanyut akibat banjir. Jadi hari ini (kemarin, Red) masyarakat sudah kembali ke rumah,” kata Deni, Selasa (13/10).

Saat ini, kata dia, tim dari Polres Garut, Kodim, BPBD dan unsur terkait lainnya segera melakukan pembersihan pascabencana banjir bandang.

Soal kesehatan masyarakat pun telah dilakukan Dinas Kesehatan dan PMI.

Loading...

“Dari Dinas Kesehatan sekarang mulai melakukan penyemprotan disinfektan di lokasi rumah korban banjir, karena ditakutkan ada virus,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mandalakasih Iwan Darmawan mengatakan seluruh warganya sudah kembali ke rumah masing-masing.

Pascabanjir bandang, seluruh masyarakat mengadakan kerja bakti untuk membersihkan rumah dan fasilitas umum yang tertimbun lumpur.

“Sekarang warga bersama-sama membersihkan lumpur yang masih menutup jalan dan beberapa fasilitas umum lainnya,” ujarnya.

Kondisi masyarakat saat ini, kata dia, sudah mulai kembali beraktivitas. Tetapi saat ini masyarakat membutuhkan air bersih, pakaian dan obat-obatan.

“Kalau sembako sudah banyak yang ngasih, sekarang ini air bersih, pakaian dan obat-obatan yang dibutuhkan,” terangnya.

Menurut dia, Desa Mandalakasih merupakan wilayah yang paling parah terdampak banjir bandang di Kecamatan Pameungpeuk. Berdasarkan data terakhir, jumlah warga yang terdampak mencapai sekira 576 kepala keluarga atau 1.700 jiwa.

Diperkirakan kerugian akibat banjir bandang di desa itu mencapai Rp 500 juta.

“Karena banyak harta benda dan kebun warga yang terendam air dan lumpur,” katanya.

Salah seorang warga, Iyan Taryana (44) mengatakan warga baru sempat melakukan kerja bakti. Sebab, jalan desa tak bisa dilalui kendaraan jika tak segera dibersihkan. “Tebal soalnya lumpurnya,” katanya.

Ditempat terpisah, Ade (36), warga Kampung Kaum Lebak, Desa/Kecamatan Pameungpeuk menyebut sejak pagi warga bergotong-royong untuk membersihkan sisa lumpur dan sejumlah barang di jalan. Wilayah Desa Pameungpeuk berada di pinggir Sungai Cipalebuh yang airnya meluap ke pemukiman warga.

“Kami butuh alat berat, soalnya kalau manual akan lebih lama membersihkannya. Banyak kayu dan barang-barang dari rumah yang terbawa hanyut. Tidak akan beres sehari kalau manual,” ujarnya.

Di Kampung Kaum Lebak, ada sekitar 85 rumah terendam banjir. Dengan tingkat kerusakan rumah kategori sedang. Selain itu, satu bangunan PAUD juga rusak berat.

“Ada juga Posyandu dan toko milik warga yang hanyut terbawa arus sungai. Lokasinya memang berada di bantaran sungai,” katanya.

Baca juga : Tanggulangi Bancana, Pemkab Garut Siapkan Titik Pengungsian & Dapur Umum

Selain mulai membersihkan rumah, warga juga membersihkan jalan dari sisa lumpur. Jalan penghubung antardesa itu sebelumnya tertutup material lumpur dan tak bisa dilalui.

“Kami harus segera buka akses jalan biar tidak menghambat aktivitas. Terutama biar pasokan air bersih dan alat berat bisa masuk ke kampung,” paparnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.