Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.1%

19.6%

7.4%

69.9%

Pasien Covid-19 di Kota Tasik tak Terima Dijemput Paksa

843
0
KOORDINASI. Kadinkes dr Uus Supangat menceritakan kronologis penjemputan paksa kepada Wakil Wali Kota H Muhamad Yusuf.

TASIK – Seorang pasien positif Covid-19 yang beralamat di Kecamatan Tawang tak terima ketika dijemput paksa oleh Tim Gugus Tugas Kota Tasikmalaya, Jumat (15/5).

Pasien tersebut menolak dibawa petugas kesehatan untuk diisolasi kembali, karena sudah memegang surat keterangan sehat dari Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.

Berita terkait : Positif, Warga Tawang Kota Tasik Ngamuk saat Dijemput Paksa Tim Covid-19

Baca juga : Lagi, Densus 88 Geledah Tempat Futsal di Kawalu Kota Tasik, Ini yang Ditemukan..

Setelah sebelumnya menjalani isolasi selama 20 hari.

Sekitar pukul 10.00 suasana di Jalan Rumah Sakit mendadak ramai.

Di dalam sebuah gang, seorang pria berdiskusi dengan nada tinggi kepada petugas yang menggunakan alat pelindung diri (APD). Petugas tersebut merupakan tim medis bersama personel TNI Polri.

Hal itu bermula saat petugas melakukan penjemputan terhadap salah seorang pasien yang diduga positif Covid-19.

Namun, pasien tersebut menolak setelah beberapa kali dibujuk sampai akhirnya petugas berupaya melakukan penjemputan paksa.

Tetapi pasien tersebut tidak sendirian, dia bersama keluarganya melakukan perlawanan kepada Tim Gugus Tugas.

Setelah proses pembujukan selama kurang lebih dua jam, akhirnya pasien pun bersedia ikut.

Dia dibawa secara khusus menggunakan kendaraan dinas Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Uus Supangat menuju RS TMC.

Kepala Dinas Kesehatan dr Uus Supangat mengatakan surat keterangan sehat yang dikeluarkannya harus dipahami secara utuh.

Di situ, kata Uus, tercantum bahwa pasien harus tetap melaksanakan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta isolasi mandiri.

“Kalau dilihat secara utuh (surat keterangan sehat, Red), ada anjuran-anjuran yang harus dilaksanakan pasien tersebut,” katanya.

Adapun rentang waktu yang cukup lama antara tanggal keluarnya hasil lab dengan penjemputan, sambung Uus, karena suratnya sempat nyasar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke Rumah Sakit SMC Kabupaten Tasikmalaya.

Maka dari itu, pihaknya baru kembali meminta pasien untuk isolasi pada tanggal 12 Mei 2020.

“Kita tunggu-tunggu belum ada juga, setelah kita cari tahu ternyata masuknya ke SMC dan hasilnya positif,” tuturnya.

Selanjutnya, pihaknya akan melakukan swab test ulang untuk pasien tersebut untuk memastikan kondisi kesehatan pasien.

Selain itu, dia pun akan melakukan traking kepada orang-orang yang melakukan kontak langsung dengannya. “Mudah-mudahan hasilnya negatif, tapi kalau positif berarti akan kita lakukan pemulihan lebih lanjut,” katanya.

Wakil Wali Kota Tasikmalaya H Muhamad Yusuf mengatakan pihaknya melakukan penjemputan paksa karena pasien terus menolak diisolasi kembali.

Dua hari sebelumnya pun petugas sudah membujuk pasien tersebut untuk dibawa ke rumah sakit.

“Ya kita katakan ini upaya jemput paksa, karena pasien menolak diisolasi,” ujarnya kepada wartawan kemarin.

Menurut Yusuf, ini berawal dari keterlambatan keluarnya hasil swab test untuk pasien tersebut.

Gugus Tugas Kota Tasikmalaya menilai bahwa pasien telah sembuh, sehingga dipulangkan dari rumah sakit. “Setelah dia dipulangkan swab test-nya menyusul, ternyata hasilnya positif,” katanya.

Alasan Gugus Tugas memulangkan pasien, sambung Yusuf, karena pasien tersebut sudah menjalani isolasi cukup lama, kurang lebih 20 hari.

Kondisi fisiknya pun tidak menimbulkan gejala yang mengarah kepada Covid-19, di tambah pemeriksaan swab test awal hasilnya negatif. “Dia kan sudah 20 hari diisolasi,” katanya.

Saat menolak untuk dibawa petugas pasien tersebut menegaskan bahwa 17 April 2020. Dinas Kesehatan sendiri yang mengeluarkan keterangan sehat untuknya dengan dasar hasil swab test.

Maka dari itu, dia merasa tidak perlu lagi menjalani isolasi. “Saya sudah dinyatakan sehat, ditandatangani oleh dr Uus Supangat (Kadinkes),” tutur pasien tersebut.

Kejanggalan lainnya yakni keterangan hasil swab test positif itu dikeluarkan tanggal 20 April 2020.

Sedangkan dia, baru diminta untuk kembali menjalani isolasi pada tanggal 12 Mei kemarin. “Seharusnya tanggal 21-22 April, kalau 12 Mei sudah terlalu lama waktunya,” kata dia.

Dia pun sempat meminta izin kepada Dinas Kesehatan untuk melakukan isolasi mandiri di rumahnya.

Untuk pemeriksaan swab test pun, dia menyanggupi akan dilakukan secara mandiri dengan biaya sendiri. Itu sudah dia lakukan dengan biaya sejumlah Rp 2,5 juta.

Baca juga : Si Balantik Siap Layani Kebutuhan Warga Tasik

“Kenapa sekarang harus ke rumah sakit, kalau harus ke rumah sakit ngapain saya harus bayar sendiri,” katanya.

Di hari yang sama, tim Gugus Tugas juga melakukan penjemputan kepada satu lagi pasien di wilayah Kecamatan Tawang. Namun kali ini, pasien bersikap kooperatif sehingga penjemputan berjalan dengan kondusif. (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.