Pasien Positif Corona di Kota Tasik Nambah 1, Meninggal 1

8101
0
IST DIMAKAMKAN. Petugas Gugus Tugas Kota Tasikmalaya melakukan pemakaman pasien Covid-19 yang meninggal, Jumat (18/9).

TASIK – Pasien positif Covid-19 di Kota Tasikmalaya kembali bertambah. Selain itu satu orang diantaranya meninggal dunia dan dimakamkan dengan protokol khusus kesehatan.

Dari data Gugus Tugas Kota Tasikmalaya, jumlah pasien Covid-19 kembali bertambah menjadi 72 orang. Siang kemarin (18/9) pun salah satu pasien yang diisolasi meninggal dunia.

Baca juga : Tak Ada Solusi dari Pemerintah, 2 Dusun di Cineam Tasik Selalu Krisis Air Bersih

Koordinator Sekretariat Gugus Tugas Kota Tasikmalaya, H Ucu Anwar mengatakan pihaknya mendapat pemberitahuan ada pasien yang meninggal dunia. Petugas pun langsung mempersiapkan pemakaman pasien dengan protokol khusus. “Kita dapat informasi pasien meninggal itu pukul 10.15,” ujarnya kepada Radar, Jumat (18/9).

Akan tetapi proses pemakaman baru bisa dilaksanakan sore hari.
Pasalnya, beberapa tahapan perlu dilakukan sampai akhirnya proses pemakaman dilakukan, diantaranya komunikasi dengan keluarga pasien. “Tidak begitu saja dimakamkan, selain mempersiapkan protokol ada proses lain yang perlu dilakukan,” tuturnya.

Beberapa hari yang lalu, penambahan pasien Covid-19 terus terjadi di Kota Tasikmalaya. Setelah adalah tiga orang guru yang diketahui pada swab test dalam rangka persiapan pembelajaran tatap muka di salah satu sekolah.

Menyikapi peningkatan kasus Covid-19, Ketua Komisi IV DPRD Kota Tasikmalaya, Dede Muharam meminta Gugus Tugas lebih serius dalam pencegahan Covid-19. Karena menurutnya pemerintah belum begitu serius. “Kalau serius, saya yakin pemerintah mampu membuat situasi lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, Gugus Tugas harus melakukan evaluasi dengan cermat untuk menutupi apa yang masih kurang. Dia pun belum berani apa yang kurang dari langkah pemerintah karena tidak mengetahuinya secara utuh.

“Mau memberi masukkan bagaimana, koordinasi dengan kami saja buruk,” tuturnya.

Akan tetapi, prinsipnya Gugus Tugas harus menganalisa dari mana saja para pasien Covid-19 tertular. Setelah itu, cari solusi supaya hal serupa tidak terjadi lagi. “Kalau tidak begitu, jangan harap tidak ada lagi penambahan pasien,” terangnya.

Dede pun menilai konsistensi dari pemerintah dalam penanganan wabah Covid-19. Karena kesehatan seolah belum menjadi prioritas kebijakan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya. “Karena saya lihat kadang memprioritaskan kesehatan, kadang ekonomi jadi tidak fokus,” ujarnya.

Sebelumnya, selain pegawai fasilitas kesehatan (faskes), tenaga pendidik pun kembali terkena wabah Covid-19. Pada penambahan pasien yang terjadi Rabu (17/9), diketahui tiga di antaranya merupakan guru di salah satu sekolah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat menyebutkan bahwa ada tiga guru dan satu pegawai sekolah yang positif Covid-19. Dia pun menampik soal adanya isu siswa yang juga positif. “Hanya guru saja, dan pramubakti yang positif,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (17/9).

Untuk penyebab tertularnya tenaga pendidik tersebut, kata Uus, pihaknya masih melakukan penelusuran. Diharapkan tidak sampai muncul klaster sekolah. “Insya allah tidak ada klaster sekolah,” terangnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, H Budiaman Sanusi turut prihatin dengan adanya guru yang positif Covid-19. Dijelaskannya, mereka terungkap positif Covid-19 saat mempersiapkan proses belajar tatap muka. “Kan salah satu tahapan persiapannya itu melakukan swab test, ternyata ketika dites ada guru yang positif,” ujarnya.

Maka dari itu, dia menegaskan bahwa guru yang positif tersebut bukan tertular karena melakukan belajar tatap muka sembunyi-sembunyi.

Tetapi, menurutnya karena tertular saat beraktivitas di luar sekolah. “Sebab sampai saat ini belum ada sekolah yang melakukan belajar tatap muka,” katanya.

Dia pun mengingatkan para guru dan kepala sekolah untuk tetap mengikuti arahan dari pemerintah. Salah satunya dengan menerapkan protokol kesehatan.

Sehingga selama belum diperbolehkan tatap muka, maka pembelajaran tetap menggunakan metode daring. “Sekarang masih dilarang untuk belajar tatap muka,” tuturnya.

Kebijakan pemerintah ini, kata Budiaman, merupakan upaya menyelamatkan masyarakat dari wabah Covid-19 termasuk siswa dan guru.

“Untuk itu semua pihak bersabar karena rencana belajar tatap muka harus tertunda. Kalau nanti sudah zona kuning apalagi hijau, baru bisa,” terangnya.

Baca juga : Kepala Puskesmas Singaparna & Bidan Puskesmas Sukahening Tasik Positif Corona

Selain itu, dirinya diminta para guru untuk berhati-hati dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari agar terhindar dari Covid-19.

“Kita tidak ingin ada tenaga pendidik atau siswa yang terkena Covid-19. Kita harap semua jaga diri dan tetap sehat,” pungkasnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.