Pedagang di Pangandaran Tidak Ditarik Retribusi

37
0
MEMBAGIKAN APD. Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi UMKM Kabupaten Pangandaran Tedi Garnida (kiri) saat memberikan alat perlindungan diri (APD) kepada para pedagang beberapa waktu lalu. DENI NURDIANSAH / RADAR TASIKMALAYA
MEMBAGIKAN APD. Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi UMKM Kabupaten Pangandaran Tedi Garnida (kiri) saat memberikan alat perlindungan diri (APD) kepada para pedagang beberapa waktu lalu. DENI NURDIANSAH / RADAR TASIKMALAYA

PANGANDARAN – Masa pandemi Covid-19, semua aspek kehidupan terkena dampaknya, tidak terkecuali bidang perdagangan di Kabupaten Pangandaran.

Dalam hal ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran melalui Dinas Perdagangan dan Koperasi UMKM sudah melakukan antisipasi, rehabilitasi dan merekonstruksi kondisi perdagangan di Kabupaten Pangandaran.

Kepala Dinas Perdagangan dan Koperasi UMKM Tedi Garnida mengatakan pada bulan Maret 2020, omzet para pedagang di Pangandaran mengalami penurunan hingga 70 persen. Itu merupakan yang terendah sejak beberapa tahun terakhir karena mobilitas masyarakat yang dibatasi, wisata yang ditutup untuk sementara waktu dan juga kekhawatiran penularan virus Corona, menjadi penyebab terpukulnya aktivitas perdagangan di Pangandaran.

“Untuk itu, kami dari Pemkab Pangandaran akhirnya mengambil keputusan, agar omzet pedagang tidak terjun bebas lagi, maka Pak Bupati Jeje saat itu mengeluarkan SK pencabutan penarikan retribusi pedagang untuk sementara waktu,” katanya kepada Radar Selasa (22/12).

Adapun berbagai tarif retribusi terhadap pedagang pasar tradisional yang tidak ditarik yakni bangunan kios Rp2.000, bangunan los Rp1.500 dan bangunan PKL Rp500.

“Untuk kebersihan hubungannya sama LH, jadi untuk retribusi tersebut kita tidak tahu,” kata dia menjelaskan.

Baca juga : Masuk Pangandaran, Wisatawan Akan Diminta Tes Antigen

Kata dia, beberapa evaluasi terhadap kebijakan relaksasi tersebut terus dilakukan, para pedagang pun sedikit demi sedikit mulai bangkit. “Namun kita tidak sertamerta langsung menarik retribusi kembali,” kata dia menjelaskan.

Ia mencatat, omzet para pedagang hingga saat ini sudah naik hingga 80 persen, berkat kebijakan tersebut. “Sedikit demi sedikit sudah mulai membaik, kita patut bersyukur bahwa usaha untuk menaikan penjualan mereka berhasil,” ucapnya.

Selain itu, untuk mencegah adanya klaster di pasar tradisional, mereka juga turut memberikan bantuan berupa mesin penyemprot disinfektan, APD, pembuatan tempat cuci tangan dan lain-lain.

“Kita juga libatkan UMKM untuk pembuatan masker, yang didanai oleh provinsi, para pelaku bordir yang kita libatkan,” jelasnya. Yang tak kalah penting, pedagang juga harus menerapkan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.

Ia pun berharap pendapatan dan omzet para pedagang bisa normal kembali, setelah terpukul sangat telak oleh Covid-19 di tahun 2020. (den/adv)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.