Pedagang Kopi & Es di Alun-alun Kota Tasik; Takut Corona Maunya Diam di Rumah, Tapi..

192
0
SEPI PEMBELI. Pedagang di Alun-alun Kota Tasikmalaya mengaku mengalami penurunan omset yang drastis Kamis (24/4). Deni Nurdiansah/Radar Tasikmalaya

Nasib pedagang kecil di Kota Tasikmalaya khususnya yang berjualan di Alun-Alun kian tidak menentu, kondisi mereka sangat dilematis, di satu sisi mereka berdagang untuk mendapat uang, tapi di satu sisi mereka pun khawatir tertular wabah Covid-19

Deni Nurdiansah, Tawang

Cuaca panas menyengat begitu terasa di Alun-alun Kota Tasikmalaya, kemarin (24/4), waktu menunjukkan pukul 13.00. Biasanya di sana banyak sekali gerobak pedagang yang berjejer mengelilingi taman, mulai dari tukang cireng, cilok, minuman segar dan lain-lain. Tapi pemandangannya begitu berbeda kemarin, terasa sepi sekali.

Baca juga : Munggahan, Warga Membludak ke Pasar Cikurubuk Kota Tasik

Di depan pendopo Kabupaten Tasikmalaya biasanya juga banyak yang nongkrong, ngopi atau sekadar kongkow. Tapi sekarang hampir tidak terlihat.

Salah seorang pedagang, Epi Noviyanti (56) mengatakan dirinya terpaksa berjualan kopi dan es di sekitar Alun-alun Kota Tasikmalaya, karena sangat membutuhkan beras untuk bertahan hidup. ”Biasanya banyak yang membeli dagangan saya, kebanyakan mereka yang suka nongkrong atau sedang berolahraga, tapi karena taman di tutup, sekarang sangatlah sepi,” jelasnya.

Biasanya, Epi mendapatkan uang sebesar Rp 100 ribu dalam sehari, tapi untuk saat ini sangatlah tidak menentu. Kadang-kadang Rp 20 ribu, bahkan lebih parah lagi Rp 15 ribu. ”Sebenarnya sebelum wabah Covid-19 juga omset saya sudah turun, tapi setelah adanya virus corona, omset saya makin jatuh,” ujarnya.

Termasuk, biasanya Epi sering mendapatkan tambahan penghasilan dari anak-anak sekolah yang di sekitar Alun-alun , tapi karena sekolah diliburkan, pendapatannya pun jauh berkurang. ”Biasanya yang jajan itu dari SMP 10 dan SMP 4 Kota Tasikmalaya, sekarang kan diliburkan, “ jelasnya.

Apabila diam di rumah, kata Epi, ia pasti tidak akan mendapatkan penghasilan, atau mungkin bisa membuat perutnya kelaparan. ”Inginnya kalau kondisi seperti sekarang ini, diam di rumah saja, Tapi kalau tidak dagang saya tidak makan, masih mending kalau pemerintah bisa membantu,” ujarnya.

Dia pun pesimis berjualan saat Ramadan, hal itu karena ada larangan berkerumun dan membuka bazaar. ”Ditambah taman ini masih ditutup, kayanya saya mau fokus beribadah,” terangnya.

Baca juga : Pengakuan Warga Ciamis dan Tasik yang Tak Bisa Mudik, Antara Rindu & Takut..

Pedagang cireng, Maman (45) mengaku sangat pesimis bisa meraup keuntungan di bulan Ramadan. ”Biasanya kita juga suka diusir Pol PP untuk berjualan di sini, apalagi saat wabah corona seperti sekarang ini,” ucapnya.

Penjual cilok, Sariman (56) mengaku sangat kesulitan mendapatkan uang dalam keadaan seperti sekarang ini. ”Mau dapat Rp 100 ribu saja, saya harus berjualan sampai jam 12 malam, biasanya hanya sampai maghrib sudah pulang,” ungkapnya. (den)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.