Lapak di Jalur KA Cibatu-Garut Mulai Dibongkar

Pedagang Minta Kepastian

176
0
DIBONGKAR. Warga melintas di bekas lapak pedagang Pasar Gapensa atau Pasar Mawar di Kelurahan Pakuwon Kecamatan Garut Kota Selasa (5/3). Para pedagang mulai membongkar lapak karena adanya reaktivasi jalur KA Cibatu-Garut.Yana Taryana / Rakyat Garut
Loading...

GARUT KOTA – Pedagang di Pasar Gapensa atau Pasar Mawar di Kelurahan Pakuwon Kecamatan Garut Kota mulai membongkar lapak dagangnya masing-masing. Pembongkaran dilakukan karena lahan pasar akan menjadi jalur perlintasan Kereta Api Cibatu-Garut.

“Pembongkaran ini sudah 10 hari dilakukan,” ujar Endang (66), salah satu pedagang di Pasar Gapensa kepada wartawan Selasa (5/3). Menurut dia, pembongkaran sebagian kios dilakukan bukan karena adanya surat pemberitahuan dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) maupun pemerintah, tetapi pedagang dan pembeli sudah tidak nyaman. Sebab atap pasar yang menyatu dengan atap stasiun terlebih dahulu dibongkar petugas PT KAI.

“Sebelum kami bongkar lapak, 10 hari ke belakang atap pasar terlebih dahulu dibongkar petugas. Jadi kami jualan tidak nyaman karena panas. Pembeli juga nggak mau beli ke sini,” terangnya.

Endang menerangkan kios yang sekarang sudah dibongkar hanya sebagian. Dari total 300, baru 50 kios. “Yang dibongkar itu berada tepat di belakang Stasiun Garut dan di atas rel yang akan diaktifkan,” terangnya.

Meski sudah membongkar sendiri, tetapi dirinya tidak tahu akan pindah jualan kemana. Hal itu karena pemerintah belum memberi kepastian terkait tempat relokasi. “Katanya mau ke Pasar Jagal, masih dekat dari sini. Tapi nggak tahu seperti apa teknisnya,” katanya.

Hal senada dikatakan Maman Surahman (55), pedagang lainnya. Menurut dia, wacana pemerintah merelokasi ke Pasar Jagal bukan solusi. Karena kapasitas di lokasi itu hanya bisa menampung 50 pedagang. “Sekarang di sini yang jualan ada 300 orang, jadi sebagiannya akan dikemanakan?” paparnya.

Maka dari itu, dirinya berharap pemerintah memikirkan tempat relokasi yang bisa menampung semua pedagang Pasar Mawar. “Kalau mengambil keputasan (relokasi) jangan sepihak, ajak kami (pedagang) bicara,” terangnya.

Loading...

Euis Masitoh (55), warga Kampung Rokal mengaku rencana reaktivasi jalur kereta menjadi beban terhadapnya. Bahkan dia jatuh sakit ketika rumahnya akan dibongkar. Hal itu karena ganti rugi terhadap rumah miliknya yang akan dibongkar tidak sepadan dengan biaya pembangunannya. “Saya ngebangun habis Rp 180 juta, tapi cuma dapat ganti rugi Rp 19 juta,” katanya.

Ia meminta pemerintah bisa memerhatikan warga yang terdampak pembangunan jalur rel Cibatu-Garut. Sebab, tak mudah mencari rumah kontrakan. “Jangan asal main bongkar saja. Tapi pikirin kami mau tinggal kemana warga yang kena gusur,” ujarnya.

Terpisah, Bupati Garut H Rudy Gunawan mengaku hanya bisa memfasilitasi keinginan warga yang terdampak reaktivasi jalur KA Cibatu-Garut untuk hunian sementara. “Yang punya kewenangan terkait penanganan ini pemerintah pusat. Kami hanya bisa memfasilitasi saja,” terangnya.

Pemkab Garut, kata dia, saat ini belum bisa melakukan penanganan masyarakat yang terdampak karena terhambat anggaran. “APBD kami hanya bisa bangun rutilahu (rumah tidak layak huni) saja. Itu pun harus punya tanah. Kalau ada yang seperti itu (rutilahu) kita bisa anggarkan,” ujarnya.

Menurutnya, warga terdampak selama ini menyewa lahan ke PT KAI. Apa­lagi sudah disadari lahan itu harus di­­kembalikan jika sewaktu-waktu PT KAI memerlukan. “Saya ikutin saja karena PT KAI laksanakan tugasnya sendiri. Ke pemda hanya minta bantuan pe­ngamanannya saja,” terangnya. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.