Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.4%

19.9%

7.3%

69.4%

Pegiat Seni di Kota Tasik Butuh Solusi untuk Hidup

105
0

CIHIDEUNG – Dampak pandemi Covid-19 kontan menggerus pendapatan pegiat usaha di bidang pariwisata atau hiburan.

Terutama pegiat musik yang sepi order atau job manggung di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Tidak sedikit sejumlah musisi mulai menggantung instrumennya untuk beralih profesi serabutan.

Baca juga : Relokasi Pasar & Terminal Singaparna Tasik Belum Jelas, Ini Kendalanya..

Bahkan, sampai menjual peralatan musiknya agar bertahan di situasi ini.

“Banyak kawan kami yang biasa ngamen di cafe, manggung di acara event organizer, terpaksa jual alat seninya. Sebagian lainnya menjadi pekerja serabutan atau alih profesi,” kata Sekretaris Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) Kepler Sianturi kepada Radar, Selasa (11/8).

Menurutnya, sejak Maret sampai dengan Juli para seniman tidak dapat mengekspresikan kreativitasnya. Lantaran dibatasi sejumlah ketentuan dalam mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

Parahnya, setelah PSBB berakhir pun, aktivitas mereka belum bisa kembali berjalan. Tidak seperti sektor ekonomi lain yang mulai bergeliat ketika memasuki AKB. “Kalau ada kepedulian pemerintah mungkin mereka cukup terbantu,” ujarnya.

Kepler mengatakan ketika masyarakat lain sudah terperhatikan, baik melalui program rutin seperti PKH, BPNT. Termasuk bansos Covid-19.

Para pegiat seni di Kota Tasikmalaya justru belum mendapat kesempatan itu. Apalagi dalam suatu pertunjukan, melibarkan sejumlah pegiat mulai pekerja sound system, lighting, jasa transportasi dan lain sebagainya.

“Otomatis tidak cuma pelaku seni saja. Penunjang pertunjukan juga kena imbas,” keluh Kepler.

Pihaknya pun melalui DKKT sudah menyampaikan keluhan-keluhan itu ke Pemerintah. Bahkan, sudah melampirkan dara para pegiat seni supaya bisa diperhatikan.

“Namun sejauh ini belum terlihat. Maka kita harap Gugus Tugas Covid-19 bisa memahami dan memberi solusi lewat kebijakan yang bisa membuat rekan pegiat seni beraktivitas,” harap dia.

“Ya sekarang dari pusat saja pekerja di bawah gaji Rp 5 juta ada subsidi. Diharapkan pegiat seni ada solusi bentuk lain misalnya,” sambung Pimpinan Simphony Music School tersebut.

Hal senada disampaikan pegiat Komunitas Harniawan Obech. Ia mendapat sejumlah keluhan dari berbagai praktisi musik Kota Tasikmalaya.

Mengingat banyaknya pihak-pihak yang mengais rezeki di kala terjadi kerumunan orang, sekarang justru dibatasi. “Kalau pun tak ada panggung karena berisiko penyebaran Covid-19 mohon ada solusi,” kata dia.

Baca juga : Usai Bentrok Genk Motor Vs Warga Cihideung Balong Kota Tasik, Polisi Gencarkan Razia Knalpot Bising

Ia tidak berniat menyinggung urusan karaoke yang merupakan industri hiburan. Diperkenankan beroperasi dengan catatan menjaga protokol kesehatan.

Sebetulnya, kata dia, para pemusik pun bisa berekspresi di cafe atau kedai, yang tentunya dilaksanakan protokol kesehatan. “Kan apa bedanya dengan live music. Kita bukan membandingkan dengan karaoke, hanya ingin ada solusi supaya pegiat seni bertahan hidup,” harapnya. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.