Hanya untuk Warga Kabupaten Tasik
SIAPA BUPATI & WAKIL BUPATI PILIHAN ANDA?

3.8%

19.6%

8.1%

68.6%

Pekerja Restoran Kota Tasik yang Dirumahkan, Mimpi Kuliah Tertahan Covid-19

966
0
AKRAB. Adinda Dwi Nusa Putri bersama ibunya Nunung Nurjanah. Istimewa

Dampak mewabahnya Covid-19 di Kota Tasikmalaya berimbas besar pada sektor ekonomi, banyak para pekerja penuh waktu, harus merasakan getirnya dirumahkan sampai dengan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).

Deni Nurdiansah, Tawang

Kemarin (5/5), suasana sore hari di Lengkongsari begitu ramai oleh orang-orang yang sedang ngabuburit, baik orang tua maupun muda.

Baca juga : Pencairan Bantuan Non-DTKS Pemprov Jabar untuk Kota Tasik Belum Jelas

Tanpa memperdulikan bahaya penyebaran virus corona. Di setiap sudut jalan, terlihat para pedagang dengan santainya melayani pembeli yang sedang menunggu datangnya azan Maghrib.

Sementara itu, di satu rumah berwarna kuning cerah, nampak seorang gadis muda dengan kulit putih kekuningan tengah duduk di atas kursi sofa yang empuk, ditemani oleh ibunya dan teman sebayanya.

Gadis dengan rambut terurai itu nampak sangat murah senyum dan ramah sekali.

Namun di balik keceriaannya tersebut, ternyata dia baru saja mendapat pengalaman pahit, dimana baru saja dirumahkan dari tempatnya ia bekerja.

Nama gadis itu, Adinda Dwi Nusa Putri yang berusia 20 tahun, sebelumnya ia bekerja di sebuah restoran cepat saji di Kota Tasikmalaya.

Tetapi sudah hampir satu bulan setengah, ia tidak lagi bekerja di sana. Ia pun merasa kecewa, karena pekerjaan yang ia jalani harus berakhir.

”Pihak manajemen mengatakan kami dirumahkan dulu, hingga waktu yang belum ditentukan, tentu kami merasa kecewa,” jelasnya kepada Radar, Selasa (5/5).

Menurutnya, keputusan manajemen perusahaan itu tidak lain karena kondisi ekonomi saat ini, yang terdampak oleh wabah Covid-19. ”Iya jelas kalau keputusan itu dipengaruhi oleh dampak virus corona,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa gaji yang dia dapat setara Upah Minimun Kota (UMK), sehingga ia bisa menabung dan membantu kedua orang tuanya. ”Saya bisa memenuhi kebutuhan sendiri, tapi sekarang saya tidak ada pemasukan sama sekali,” ujarnya.

Pekerjaan itu, kata Adinda, ia geluti selama hampir satu tahun, dirinya bekerja sejak sebelum lulus SMK.

”Saya sudah punya pekerjaan, rasanya senang sekali karena bisa menghasilkan uang sendiri,” jelasnya.

Saat bekerja di restoran cepat saji tersebut, ia juga bekerja sampingan sebagai model pemotretan.

”Saya juga ada bakat di dunia model, tapi penghasilan saya tetap dari pekerjaan terdahulu (bekerja di restoran, Red),” katanya.

Dengan dirumahkannya dari pekerjaan, sambung Adinda, cita-citanya untuk melanjutkan kuliah harus tertunda, sebab pekerjaanya dihentikan sementara.

”Kalau kuliah saya mau mengambil jurusan perbankan, tapi kini sepertinya hanya sebatas mimpi, ” jelasnya.

Ibu dari Adinda, Nunung Nurjanah (51), mengaku merasa sedih karena anak perempuannya kini tidak bekerja.

”Sebelumnya anak saya sudah bisa membantu kepada orang tua, saya sangat bangga sekali,” ucapnya.

Baca juga : PSBB Kota Tasik Terjunkan 500 Personil, Bagaimana dengan Ngabuburit?

Ia pun berharap wabah corona bisa cepat berakhir dan anaknya bi­sa kembali bekerja.

”Mudah-mu­dahan semuanya kembali normal dan kondisinya bisa seperti semula,” ung­kap suami dari Asep Sudrajat itu. (*)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.