Pelaku Buang Bayi Akan Dihantui Rasa Bersalah

116
0

Kasus buang bayi merupa­kan tindakan kejahatan yang menunjukkan nilai moralitas rendah. Sayangnya perilaku amoral saat ini seolah diberikan toleransi cukup tinggi.

Psikolog Tasikmalaya Rikha Surtika D MPsi mengatakan secara psikologi, bayi dibuang karena tidak diinginkan orang tua. Biasanya, dilakukan ketika perempuan hamil di luar nikah. “Ada hal yang membuat kehadiran bayi itu tidak diinginkan, biasanya karena hubungan di luar nikah,” ujar Rikha kepada Radar belum lama ini.

Menurutnya, hal itu merupakan dampak estafet dari toleransi terhadap perilaku amoral di masyarakat. Secara psikologi banyak orang khususnya di kalangan remaja tidak malu untuk melakukan hal-hal yang secara norma cukup tabu. “Karena toleransinya tinggi, jadi orang-orang pun jadi berani menunjukkan perilaku amoral,” ungkapnya.

Kehamilan di luar nikah, kata dia, tetap menjadi aib bagi pribadi maupun keluarga. Akhirnya seseorang bisa nekat melakukan aborsi dan membuang darah dagingnya sendiri. “Seseorang sekarang memang berani mengumbar kemesraan, tapi kalau sudah hamil tetap saja menganggap itu aib,” katanya.

Biasanya, sambung Rikha, pelaku pembuang bayi akan mengalami tekanan psikologi yang cukup berat. Dia akan dihantui rasa bersalah, karena bagaimana pun perbuatannya merupakan dosa berat. “Ngeri sekali,” ujarnya.


Namun, sambung Rikha, bisa juga pelaku tidak mengalami tekanan psikologis atas perbuatannya. Tetapi menunjukkan nilai moralitas yang lemah dan perlu pembinaan sosial. “Secara psikologis itu mungkin positif, tapi secara moralitas jadi masalah jika memang setelah membuang bayinya pelaku biasa-biasa saja,” katanya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.