Ketua RW Berharap Kasus Terungkap Jelas

Pelaku Hanya Layani Pijat Pria

432
0
GARIS POLISI. Ketua RW setempat Ajat Sudrajat mengecek tempat kos terduga penyedia jasa pijat plus-plus yang masih dipasangi garis polisi, Selasa (20/8). Rangga Jatnika / Radar Tasikmalaya

TASIK – Terduga penyedia pijat plus-plus, ADH (26) masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Tasikmalaya Kota, Selasa (20/8). Pemuda asal Mangkubumi Kota Tasikmalaya itu, diketahui hanya melayani pasien laki-laki.

Hal itu diungkapkan teman kos ADH, Aep Saepulloh (27) yang menegaskan temannya tidak membuka layanan plus-plus. Dalam praktiknya pun baik pasien maupun ADH tidak sampai telanjang. “Saya juga suka lihat, paling pakai kolor,” ungkapnya saat ditemui Radar. kemarin (20/8).

Selama ini, kata Aep, ADH hanya melayani pijat untuk pria layaknya tukang pijat secara umum. Dia selaku teman kos tidak mengizinkan jika ADH melayani pijat wanita. “Pernah ada yang minta, tapi saya larang karena bisa masalah,” tuturnya.

Aep membenarkan soal ADH yang memasarkan jasa pijatnya di Facebook. Terkait salah satu gambar pijat telanjang yang ada di salah satu postingannya, dia menduga gambar itu dapat dari internet.

Kedekatan Aep dengan ADH sudah berlangsung cukup lama, sekitar 6 tahun. Di tambah lebih dari setahun mereka tinggal di satu atap. Sehingga Pemuda asal Cibeureum Kota Tasikmalaya itu sangat mengenal bagaimana kepribadian ADH tersebut.

Bahkan, sambung Aep, dirinya merasa iba melihat ADH yang tidak memiliki penghasilan tetap. Bahkan, bisa dibilang Aep menanggung biaya hidup ADH dan neneknya. “Dia juga lagi nyari kerja, tapi belum dapat,” katanya.

Nenek ADH, Ebah (74) yang ditemui Radar di halaman kosan ADH Jalan Cieunteung Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya mengatakan cucunya merupakan tukang pijat biasa, seperti pada umumnya. Karena memijat sudah menjadi keahliannya. “Di kampung (di daerah kelahirannya, Red) juga suka banyak yang minta pijat sama dia,” terangnya.

Dari Ebah, diketahui bahwa ADH merupakan pemuda putus sekolah. Pendidikan terakhirnya hanya sampai sekolah dasar. Alasannya, kurang begitu dia ketahui pasti. “Anaknya enggak mau sekolah lagi,” jelasnya.

ADH sendiri, kata Ebah, merupakan anak tunggal. Dia tidak memiliki kakak atau adik. Ayah kandungnya sudah meninggal dunia sejak masih kecil. Ibunya pun saat ini sudah menikah lagi. “Tapi katanya ibunya mau ke Polres juga (menjenguk ADH, Red),” katanya.

Ketua RW setempat, Ajat Sudrajat berharap kasus ini bisa terungkap secara jelas. Pasalnya, berbagai asumsi beredar di masyarakat khususnya di lingkungannya. “Sekarang kan sudah ditangani polisi, kita berharap saja ada kejelasan,” imbuhnya.

Sementara ini, kepolisian belum memberikan penjelasan terkait kasus dugaan jasa layanan pijat plus-plus itu. Pantauan Radar, ADH Selasa siang (20/8) masih menjalani pemeriksaan di ruang Unit Tipiter Sat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota.

Penulusaran melalui akun facebook-nya, ADH menggembor-gemborkan jasa layanan pijat. Praktiknya bisa di tempat pasien atau di kosan. selain gambar tak senonoh, terdapat pula kata-kata seronok yang menjurus asusila.

Sebelumnya diberitakan, Diduga telah menyediakan layanan pijat plus-plus, seorang pemuda berinisial ADH (26) diciduk Polisi di sebuah kamar kos di Cieunteung Kelurahan Sukarame Kecamatan Cihideung, Senin (19/8).

Dari informasi yang dihimpun Radar, jajaran Polsek Cihideung dan Polres Tasikmalaya Kota mendatangi kosan pemuda tersebut. ADH bersama temannya pun diamankan petugas, dan tempat kos pun dipasangi garis polisi.

Saat dikonfirmasi, Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Febry Kurniawan Ma’ruf SIK SH mengakui telah mengamankan ADH. Terkait dugaan, dia membuka layanan pijat plus-plus, polisi masih mendalaminya. “Sedang ditangani, betul tidaknya (pijat plus-plus) masih dalam pendalaman,” ungkapnya. (rga)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.