Pelaku UMKM Kota Tasik Pesimis Bisa Bertahan di Tengah Pandemi

83
0
LESU. Pengurus BDC sedang menata produk kerajinan tangan di sekretariatnya, Jumat (9/10). UMKM kesulitan bertahan di tengah pandemi Covid-19. RANGGA JATNIKA / RADAR TASIKMALAYA

TASIK – Pandemi wabah Covid-19 yang berdampak pada berbagai aktivitas masyarakat ini belum bisa dipastikan berakhir sampai kapan. Dengan kondisi ini, sebagian Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pesimis bisa bertahan sampai setahun ke depan.

Ketua Bussinnes Development Center (BDC) Kota Tasikmalaya, Beng Haryono mengatakan wabah Covid-19 ini berdampak kepada berbagai aktivitas usaha masyarakat, baik kecil maupun besar.

Baca juga : Wanita Suspect Corona Warga Mangkubumi Kota Tasik Meninggal, Positif 270 Orang

“Para pelaku UMKM sudah merasakan banyak kerugian sejak pandemi terjadi,” ujarnya kepada Radar, Jumat (9/10).

Menurutnya, pelaku UMKM sudah kesulitan untuk bertahan dalam kondisi saat ini. Khususnya para pelaku usaha binaannya yang bergerak di bidang kerajinan tangan.

“Termasuk kelom gelis, bordir dan kerajinan tangan lain. Mereka seolah hidup segan, mati tak mau,” ungkapnya.

Loading...

Pada akhirnya, kata dia, pihaknya mengarahkan pelaku UMKM menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar. Seperti halnya memproduksi masker untuk dijual kepada instansi atau masyarakat umum.

“Karena di masa sekarang kan masker yang jadi kebutuhan,” ujarnya.

Namun, hal itu belum bisa menjadi solusi, karena tidak sedikit pelaku usaha yang banting setir memproduksi masker. Tapi sedikit banyak, hal itu bisa membuat mereka bisa bertahan.

“Setidaknya binaan kami bisa tetap produktif,” terangnya.
Ada pun yang masih memungkinkan bergerak, yakni pelaku usaha di bidang makanan.

Tetapi potensinya pun tidak terlalu besar, karena perekonomian masyarakat yang sekarang sedang buruk. “Ekonomi buruk, daya beli juga menurun drastis,” katanya.

Disinggung bantuan dari pemerintah untuk para pelaku UMKM, memang hal itu bisa membantu. Namun bantuan tersebut hanya merupakan solusi jangka pendek saja. “Kita hargai upaya dari pemerintah, tapi kan tidak akan bertahan lama,” katanya.

Maka dari itu, pihaknya hanya bisa terus bergerak meski dengan harapan yang tipis. Dia senantiasa meyakinkan 285 Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) binaannya untuk tidak berhenti bergerak.

“Yang jelas kita berharap pandemi segera berlalu, karena itu satu-satunya kunci untuk mengembalikan stabilitas UMKM,” pungkasnya.

Sebelumnya, Beng mengatakan saat ini ekonomi pelaku UMKM tak hanya lesu, tapi juga terancam gulung tikar. Akibat kehabisan modal usaha, apalagi saat PSBB diberlakukan.

“Kebanyakan konsumen kan dari luar kota, jadi tidak bisa suplai barang saat PSBB,” ungkapnya kepada Radar, Kamis (19/6).

Ketika situasi mulai melonggar, kata Beng, para perajin kembali bingung untuk melanjutkan usahanya. Sebab sebagian dari mereka sudah kehabisan modal efek pandemi Covid-19.

“Penjualan tidak ada, modal dipakai untuk kebutuhan sehari-hari ya jadi habis,” ujarnya.

Baca juga : Kasus Corona Meningkat, Pemkab Tasik Siapkan Ruang Isolasi Tambahan

Padahal, sambung Beng, momen bulan Ramadan merupakan masa panen bagi perajin khususnya di bidang makanan dan pakaian.

Namun karena mobilitas yang terbatas, mereka harus kehilangan omset yang tidak sedikit. “Kami kan mendampingi 350 perajin, kalau ditotalkan omzet yang hilang selama pandemi ini bisa sampai 1 miliar,” tuturnya. (rga)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.