Pembatasan Usia Kendaraan Bikin Resah

247
0
Enan Suherlan

CIHIDEUNG – Rencana pembatasan usia kendaraan yang tengah digarap oleh pemerintah pusat membuat resah para pemilik kendaraan. Bila regulasi itu dibuat, pemerintah juga harus menyiapkan solusi yang tidak merugikan sebelah pihak.

Ketua Perkumpulan Otomotif Tasikmalaya (POT) Enan Suherlan mengatakan, upaya pemerintah membatasi usia kendaraan sejatinya bertujuan baik. Salah satunya menekan tingkat polutan terutama di kawasan padat kendaraan.

Namun demikian, kata dia, apabila pemerintah benar-benar hendak menerapkan aturan tersebut harus dibarengi dengan solusi. Salah satunya kendaraan yang dikatakan sudah cukup uzur milik masyarakat harus diapakan.

“Yang mampu membeli mobil atau motor baru tentu tenang saja. Kalau kemampuan masyarakat hanya beli kendaraan second mau seperti apa? Dilihat dan diukurnya kemampuan masyarakat, kalau sembilan dasar kebutuhan sudah terpenuhi seutuhnya, tentu bisa saja mengupayakan beli kendaraan baru dan bagus,” tuturnya.

Menurut Enan, tidak semua pemilik kendaraan bermotor tujuannya untuk memenuhi keinginan. Bahkan, sekadar kebutuhan dalam menunjang aktivitas sehari-hari pun banyak. Belum lagi, ketika berbicara selera atau hobi, yang mana saat ini cukup banyak kendaraan terbilang tua lalu lalang di daerah. “Untuk masyarakat umum tentu berdasar kemampuan. Kemudian bagi yang selera atau hobi, bagaimana solusinya?” kata pria yang concern menyikapi persoalan sosial itu.

Dia mencontohkan ketika pemerintah berupaya mengonversi penggunaan minyak tanah menjadi gas pun memerlukan fase cukup lama. Selain adaptasi dari kebiasaan, juga sudah menjadi budaya sebagian kalangan masyarakat. “Apalagi ini urusan tunggangan atau kendaraan. Kan banyak juga yang berkendara tak sekadar kendaraan, tetapi passion atau lebih terhadap kesenangan pribadi,” tutur dia.

Pengguna motor lama Jajang Heryadi (34) menuturkan hal serupa. Apabila kebijakan itu benar-benar digulirkan, tentu bagi sebagian kalangan seolah menyulitkan. “Sekarang sedang tren-trennya motor berbau custom. Biasanya kan usia tua itu, mau bagaimana nanti solusinya. Apakah pemerintah siap mengganti motor lama atau memberi keringanan apabila ingin tukar dengan motor keluaran baru?” kata dia.

Pegiat komunitas vespa itu menyayangkan apabila berkendara yang merupakan bagian dari hobi ke depan seolah dibatasi. Dia menyarankan supaya kebijakan itu dikaji lebih jauh, terutama dari aspek sosialnya. “Bagi saya motor keluaran sekarang yang fiturnya sudah modern, memang bagus. Tetapi, selera itu tidak dipaksakan,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) kembali mengangkat wacana pembatasan usia kendaraan di Indonesia. Kemenhub mengaku sudah mendapatkan gambaran perkiraan mengenai implementasi kebijakan pembatasan usia pakai kendaraan pribadi.

Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi mengatakan, wacana pembatasan usia kendaraan di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Pembahasan mengenai hal ini bahkan sempat mencuat saat perancangan UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Ia menambahkan, hingga saat ini pihaknya memang belum memiliki peta jalan atau penilaian mengenai rencana penerapan ke­bijakan ken­daraan. Namun, sudah ada pem­bahasan me­ngenai im­ple­mentasi kebijakan privasi yang digunakan kendaraan. “Idealnya 10 tahun atau 15 tahun belum bisa diputuskan. Tapi yang jelas gak sampai 15 tahun,” kata Budi, di Jakarta, Sabtu (29/6).

Budi me­ngung­kapkan, ketika awal muncul usulan tentang pem­batasan usia ken­daraan ini, pe­merintah se­benarnya belum berani me­nerapkan kebijakan tersebut, lantaran memperhatikan kemampuan ekonomi. “Kalau sekarang ini kemampuan ekonomi kita kan semakin bagus. Jadi sudah saatnya ada pembatasan usia kendaraan. Terlebih, sejumlah negara maju juga telah menerapkan kebijakan serupa,” ujar dia.

Budi menjelaskan, terkait kebijakan batas usia kendaraan, perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah, tentang suku cadang kendaraan hingga keselamatan dan populasi kendaraan yang terus meningkat. “Pertumbuhan kendaraan dan daya beli masyarakat harus diimbangi. Kalau tidak, mobil sampai bertahun-tahun numpuk di jalan. Bahkan, mobil sudah hancur juga masih dibiarin saja di depan rumah, jadi rongsokan gak jelas,” katanya. (igi/der/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.