Siapa Calon bupati Tasikmalaya pilihan anda?
18%

82%

Pemberian Insentif Berimbas Penurunan Penerimaan Pajak

17
0

JAKARTA – Pemerintah memperkirakan akan kesulitan mencapai target penerimaan pajak pada tahun 2019. Hal itu bisa kelihatan dari penerimaan pajak hingga September yang terbilang cukup rendah.

Menanggapi gagalnya pemerintah mencapai target penerimaan pajak, Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia PiterAbdullah menilai hal itu merupakan kondisi yang lumrah terjadi karena belakangan pemerintah banyak memberikan insentif pajak. “Penurunan penerimaan pajak sebenarnya kondisi logis, karena pertama, pemerintah banyak memberikan insentif pajak seperti kemudahan restitusi pajak pertambahan nilai (PPN), fasilitas tax holiday dan tax allowance. Kedua, terjadi perlambatan ekonomi yang berpengaruh baik terhadap ekspor maupun impor,” ujar Piter kepada Fajar Indonesia Network (FIN) kemarin (6/10).

Lebih jauh Piter mengatakan dalam merespons perlambatan ekonomi global pemerintah perlu memacu permintaan domestic Untuk itu, diperlukan kelonggaran pajak berupa pemberian-pemberian insentif. “Memang konsukuensinya penerimaan pajak memang akan rendah. Tapi, tidak apa-apa. Sebab Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih bisa ditutup dengan memanfaatkan ruang defisit yang tersisa,” ujar Piter.

Terpisah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak mengakui target penerimaan pajak tahun 2019 terbilang suram. Berdasarkan data yang diperoleh, penerimaan pajak hingga September masih cukup rendah. “Ya masih menantang, September kayak Agustus tapi lebih dikit,” kata Dirjen Pajak Robert Pakpahan.

Menurutnya, tren penurunan penerimaan pajak disebabkan berbagai faktor seperti perekonomian yang tertekan hingga adanya restitusi. Sebagaiman diketahui, pertumbuhan pajak anjlok hingga Agustus 2019 sebesar 0,21 persen atau paling terendah selama delapan bulan terakhir.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan pajak sampai akhir Agustus hanya sebesar Rp 801,1 triliun atau 50,7 persen dari target APBN senilai Rp 1.577,5 triliun. Dilihat dari sektoralnya, sebagian besar sektor penerimaan pajak tercatat mengalami pelambatan. Sektor manufaktur yang kontribusinya lebih dari 28 persen ke penerimaan pajak secara konsisten terkontraksi sebesar minus 4,8 persen. Tahun lalu sektor ini masih mampu tumbuh positif di angka 13,4 persen.

Sementara itu, sektor perdagangan yang tahun lalu tumbuh sebesar 26,7 persen, Agustus tahun ini hanya mampu tumbuh 1,5 persen. Kontraksi terbesar terjadi di sektor pertambangan yang minus 16,3 persen. Padahal tahun lalu sektor ini mampu tumbuh di angka 71,6 persen. (din/fin)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.