Pembuang Bayi Akan Dihantui Rasa Bersalah

118
0

TASIK – Kasus buang bayi merupakan tindakan kejahatan yang menunjukkan nilai moralitas rendah. Sayangnya perilaku amoral saat ini seolah diberikan toleransi cukup tinggi.

Psikolog Tasikmalaya Rikha Surtika D MPsi mengatakan secara psikologi, bayi dibuang karena tidak diinginkan orang tuanya.

Biasanya, dilakukan ketika perempuan hamil di luar nikah. “Ada hal yang membuat kehadiran bayi itu tidak diinginkan, biasanya karena hubungan di luar nikah,” ujarnya dihubungi Radar, Senin (25/2).

Menurutnya, hal itu merupakan dampak estafet dari toleransi terhadap perilaku amoral di masyarakat. Secara psikologi banyak orang khususnya di kalangan remaja tidak malu untuk melakukan hal-hal yang secara norma cukup tabu.

“Karena toleransinya tinggi, jadi orang-orang pun jadi berani menunjukkan perilaku amoral,” ungkapnya.

Namun demikian, kata dia, kehamilan di luar nikah tetap menjadi aib bagi pribadi maupun keluarga. Akhirnya seseorang bisa nekat melakukan aborsi dan membuang darah dagingnya sendiri. “Seseorang sekarang memang berani mengumbar kemesraan, tapi kalau sudah hamil tetap saja menganggap itu aib,” katanya.

Biasanya, sambung Rikha, pelaku pembuang bayi akan mengalami tekanan psikologi yang cukup berat. Dia akan dihantui rasa bersalah, karena bagaimana pun perbuatannya merupakan dosa berat. “Apalagi itu di kolam kan, ngeri sekali,” ujarnya.

Namun demikian, bisa juga pelaku tidak mengalami tekanan psikologis atas perbuatannya. Tetapi menunjukkan nilai moralitas yang lemah dan perlu pembinaan sosial. “Secara psikologis itu mungkin positif, tapi secara moralitas jadi masalah jika memang setelah membuang bayinya pelaku biasa-biasa saja,” katanya.

Terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya Eki S Baehaqi menyesalkan kasus yang bukan pertama kali terjadi di Kota Santri ini. Anak yang seharusnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang malah direnggut nyawanya. “Membuang bayi dan membuat dia meninggal berarti sudah membunuhnya,” ungkap Eki.

Untuk itu, dia mendorong kepolisian mengungkap siapa pelaku yang membuang bayi tersebut. Supaya mendapat efek jera dan menjadi pembelajaran bahwa perbuatan tersebut merupakan kejahatan berat. “Lokasinya kan itu masih dekat pemukiman, sepertinya polisi bisa melakukan pengungkapan dengan cepat,” katanya.

Dalam catatan KPAD, tahun 2019 ini kasus buang bayi di Kota Tasikmalaya baru pertama kali. Namun Eki pun tidak bisa menjamin fakta di lapangan karena kasus ini tergolong fenomena gunung es. “Ya kan bisa saja ada buang bayi yang lain tapi belum ketahuan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, sesosok mayat bayi di kolam ikan menggegerkan warga Bojongnangka Kelurahan Sukamenak Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya Minggu (24/2). Diduga bayi tersebut merupakan hasil hubungan di luar nikah yang dibuang begitu saja.

Salah seorang saksi, Ade Sumarna (65) mengaku sekitar pukul 13.00 dia sedang beristirahat di gubuk yang hanya berjarak 10 meter dari lokasi. Tiba-tiba saudarinya memanggil karena melihat ada benda mencurigakan di kolam milik H Ismail itu. “Dia nanyain itu boneka atau manusia,” ungkapnya kepada Radar.

Posisi bayi tersebut sekitar 2 meter dari tepi kolam, dari permukaan hanya terlihat bagian kepala. Ade pun menepikannya menggunakan tongkat sampai akhirnya jenazah bayi itu bisa terlihat jelas. “Langsung kelihatan, masih ada tali ari-arinya,” terang dia.

Ade menduga bayi tersebut merupakan hasil hubungan di luar nikah sehingga  dibuang. Namun demikian, menurutnya tidak ada warga di lingkungannya yang mencurigakan. “Mungkin orang luar yang buang ke sini,” tuturnya.

Penemuan mayat bayi tersebut langsung dilaporkan ke aparat kepolisian. Polsek Cibeureum dan Unit Identifikasi Polres Tasikmalaya Kota langsung mendatangi lokasi. Jenazah bayi laki-laki itu dievakuasi dan dibawa ke Kamar Mayat RSUD dr Soekardjo.

Kolam ikan tempat ditemukannya bayi berjarak sekitar 50 meter dari Jalan Raya Bebedahan. Akses air ke kolam tersebut pun hanya sebuah paralon dengan diameter sekitar 10 cm. (rga)

Video Pilihan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.