Pemburu Babi di Cikondang Cisompet Garut Sering Jumpai Macan Tutul

78
0
Istimewa BERBURU. Para pemburu babi sedang melihat jejak macan tutul di daerah Paku Anam Gunung Cikuhkuran di Kampung Bunisari Desa Cikondang.

CISOMPET – Para pemburu babi yang biasa berburu di kawasan hutan di Desa Cikondang Kecamatan Cisompet resah.

Hal itu karena, para pemburu kerap menjumpai macan tutul saat berburu babi ke daerah Paku Anam Gunung Cikuhkuran di Kampung Bunisari Desa Cikondang.

Bahkan, beberapa anjing pemburu yang mereka bawah pun, hilang.

“Kemungkinan sedang beranak (macan tutul), ada juga macan lain yang berwarna belang kuning di daerah Pasir Peuti, lokasinya tidak jauh dari lokasi penemuan macan tutul, hanya terhalang beberapa bukit,” kata Tatang, salah seorang pemburu babi kepada wartawan, Rabu (23/12).

Tatang mengaku di lokasi Pasir Peuti, para pemburu sempat melihat macan dikepung anjing pemburu. Saat itu, macan tersebut berada di atas pohon. Melihat hal tersebut, para pemburu pun langsung meninggalkan lokasi.

Baca juga : Kasus Covid-19 di Garut Selatan Meningkat, Pemkab Siapkan RS Darurat

Tatang berharap pemerintah bisa memperhatikan keberadaan macan tutul tersebut. Karena, warga serba salah dengan keberadaan satwa tersebut.

Karena, jika ditangkap atau dibunuh, pastinya melanggar hukum, sementara dibiarkan takut mengganggu binatang peliharaan warga di perkampungan. “Masyarakat jadi serba salah, dibiarkan takut ganggu binatang peliharaan, ditangkap melanggar hukum,” katanya.

Bukan hanya para pemburu, warga yang saat ini bertani di sekitar kawasan hutan tersebut pun, menurut Tatang juga merasa takut dengan keberadaan hewan tersebut saat menggarap lahan.

Usep Ebiet Mulyana, Manajer Lingkungan Hidup Yayasan Tangtu Buana yang melakukan advokasi di Desa Cikondang Kecamatan Cisompet mengakui telah bertemu dengan para pemburu dan meminta mereka agar tidak sampai membunuh macan tutul tersebut karena melanggar hukum.

Untuk menghindari adanya konflik antara warga dengan macan tutul, menurut Ebit, pemerintah harus segera turun tangan melakukan kajian serius tentang upaya penyelamatan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

“Status kawasannya kita masih cek, apakah kawasan hutan dibawah pengelolaan Perum Perhutani atau bukan, ini penting untuk memastikan pemangku kebijakan di kawasan tersebut,” katanya.

Dari hasil penelusurannya, selain jadi habitat macan tutul, di kawasan tersebut juga masih bisa ditemui satwa-satwa dilindungi dan endemik Pulau Jawa seperti Owa Jawa dan Surili.

Karena, kawasan hutan tersebut menjadi koridor satwa dari Cagar Alam (CA) Sancang di Kecamatan Cibalong yang menghubungkan hutan Puncak Lancang dan Cagar Alam Sancang.

Ebiet melihat Garut Selatan yang rencananya akan dimekarkan menjadi Daerah Otonomi Baru, seharusnya dilakukan kajian tata ruang secara komprehensif agar kedepannya dapat disusun tata ruang yang memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

“Sebelum dimekarkan, tata ruang lingkungan harus dibuat tegas. Selain soal keanekaragaman hayati, hal ini juga penting untuk menghindari bencana hidrometeorologi yang tiap tahun terjadi,” katanya.

Ebiet melihat ada peluang kawasan-kawasan hutan yang masih memiliki daya dukung baik dan memiliki keanekaragaman hayati yang cukup, dikembangkan menjadi Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Konsep ini, menurutnya bisa menjadi jalan tengah pembangunan daerah yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. (yna)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.