Pemerintah Dorong Neraca Perdagangan Surplus

54
0

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya menggenjot neraca perdagangan surplus dan menyejahterakan petani. Salah satu caranya dengan meningkatkan ekspor ke sejumlah negara.

Kali ini, Kementan fokus melakukan ekspor bawang merah dan jahe. Untuk bawang merah diekspor ke Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand sebanyak 1.000 ton. Sementara jahe diekspor ke Bangladesh sebanyak 500 ton.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Suwandi mengatakan, pihaknya menggalakkan ekspor demi meningkatkan perekonomian nasional sehingga memberikan kesejahteraan bagi petani.

“Ekspor dan investasi harus didorong penuh agar pertumbuhan ekonomi semakin kuat dan masyarakat semakin sejahtera,” ujar Suwandi.

Dia menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2016 Indonesia menutup total kran impor bawang merah dan cabai segar. Sebelumnya tahun 2014 masih impor bawang merah sebanyak 74.903 ton dan selanjutnya tahun 2015 impor menurun drastis menjadi 17.428 ton.

“Tapi di tahun 2017, Indonesia mulai mengekspor bawang merah ke beberapa negara tetangga mencapai 7.750 ton. Angka ini naik 93,5 persen dibandingkan pada 2016, yang ada di angka 736 ton,” ujar dia.

Catatan dia, capaian produksi bawang merah nasional di tahun 2018 mencapai 1,5 juta ton atau naik 2.04 persen dari tahun 2017 yang hanya 1,47 juta ton.

Lanjut Suwandi, kemudian ekspor jahe pada Januari hingga Mei 2018 sebanyak 1.400 ton dan pada Januari hingga Mei 2019 naik menjadi 1.543 ton atau naik 10,2 persen. Tak sampai di situ, kata dia, kinerja ekspor sayuran naik periode Januari-Mei 2019 33,3 persen atau menjadi 33.331 ton dibandingkan periode Januari-Mei 2018 hanya 24.997 ton.

Adapun selama dikomandoi Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Indonesia telah mengekspor bawang merah ke-11 negara dan jahe ke-26 negara.

Salah satu perwakilan eksportir yakni PT Sian Liep Bumi Persada dan CV Bawang Mas 99, Aman Buana Putra mengatakan, ekspor 1.000 ton bawang merah menandakan terjadi surplus.

“Bawang merah yang kami ekspor ini dihasilkan petani dari Probolinggo dan Bima Nusa Tenggara Barat. Jahe pun dihasilkan petani di Ponorogo dan Probolinggo. Kami beli dengan harga yang menguntungkan petani,” katanya. Menanggapi ekspor bawang merah dan jahe, pengamat pertanian, Dwi Andreas mengungkapkan, bahwa impor ekspor hortikultura semakin memburuk. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.