Pemerintah Dorong Pelaku Usaha Buka Pasar di Cina

67
0
NETWORK PAMERAN. Pengunjung memperhatikan pernak pernik produk yang dipajang dalam Pameran Cina Technical Equipment and Commodities 2019 di Jakarta, Kamis (11/7). Iwan Tri wahyudi / FAJAR INDONESIA

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong pelaku usaha untuk membuka pasar di Cina. Hal ini terkait neraca perdagangan Indonesia terhadap Cina defisit cukup lebar, yakni senilai 18,4 triliun dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Marolop Nainggolan menargetkan hingga akhir tahun 2019, pelaku usaha mampu melakukan transaksi dagang dengan Cina di atas Rp18 miliar dolar AS.

“Kita harus mengejar adanya gap yang cukup lebar sebesar Rp 18 miliar dolar AS. Harus dikejar bagaimanapun caranya harus bisa lebih dari Rp 18 miliar dolar AS dari perdagangan di tahun 2019,” ujar dia di Jakarta, kemarin (11/7).

Untuk itu, lanjut Marolop, pelaku usaha harus memanfaatkan peluang pada pameran Cina-ASEAN Expo (CAEXPO) yang akan digelar dalam waktu dekat ini di negaranya. “Pelaku usaha bisa berbondong-bondong ikut expo ini,” kata Marolop.

Adapun, kata Marolop, potensi produk-produk yang disukai oleh negeri tirai bambu itu mulai dari minuman herbal seperti jamu hingga obat gosok. “Pasar Cina menyukai produk kita. Terutama makanan-minuman, produk kesehatan, obat-gosok, dan minuman herbal,” ungkap dia.

Marolop menjelaskan saat ini kesadaran masyarakat Cina terhadap kesehatan terbilang tinggi. Artinya jika produk-produk kesehatan Indonesia dijual di sana, pasti akan laris manis.

“Masyarakat Cina itu lebih memperhatikan kesehatan. Kesehatan tubuh sangat diperlukan oleh konsumen Cina. Saya kira ini bisa jadi salah satu pasar yang cukup besar untuk kita dengan produk-produk itu,” ucapnya.

Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Ditjen PEN Iriana Trimurty Ryacudu menambahkan dalam expo yang bakal digelar di Cina itu, Indonesia mendapatkan keistimewaan atau lebih diutamakan dibandingkan negara lain.

Untuk itu, dia meminta para pengusaha Indonesia memasarkan produk-produk-produk ritel yang bisa menguntungkan secara jangka panjang. “Dengan begitu, neraca perdagangan kita tidak terjadi defisit, gap yang terlalu lebar dengan Cina,” kata Iriana.

Mengenai siapa saja pengusaha Indonesia yang akan ikut dalam pameran tersebut. Iriana enggan membocorkannya. “Nama perusahaannya belum boleh diberikan, tapi dari berbagai sektor, makanan-minuman, furniture, ada 5 zona, ada fashion dan aksesoris, ada food and beverage, spa dan herbal, hampir semua,” ujarnya.

Terpisah, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan dengan sisa waktu enam bulan ke depan, tidak mudah Indonesia mencapai target transaksi sebesar Rp18 miliar dolar AS.

“Saya kira bukan perkara mudah bagi pemerintah untuk mengekspor produk ke Cina sebesar Rp 18 miliar dolar AS dalam waktu 6 bulan ke depan,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin (11/7).

Namun, menurut Huda, tidak mustahil akan tercapai target. Mengingat Indonesia dan Cina merupakan mitra dagang yang saling ketergantungan. “Tapi hal tersebut juga tidak mustahil karena Cina merupakan mitra dagang utama Indonesia,” ucap Huda.

Selain itu, saran Huda, Indonesia harus pandai melihat peluang dari adanya perang dagang Cina-AS yang bisa memberikan kesempatan produk Indonesia masuk ke Cina.

“Bukan hanya jamu dan obat gosok, tapi komoditas lainnya diharapkan bisa memberikan nilai ekspor ke Indonesia,” pungkas Huda. (din/fin)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.