Pemerintah Pastikan Harga Cabai Tak Lagi “Pedas”

18
0

JAKARTA – Musim kemarau sudah mulai berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga cabai akan berangsur-angsur stabil.

Harga cabai belakangan ini memang menjadi juara. Cabai merah dan keriting melonjak antara Rp 95 ribu-Rp 100 ribu. Sedangkan harga cabai rawit tembus Rp 70 ribu. Kenaikan harga ini membuat para ibu rumah tangga beralih konsumsi cabai kering.

Kurangnya pasokan cabai memang memicu harga cabai meningkat. Hal itu karena musim kemarau. Namun saat ini tengah memasuki musim panen cabai. Alhasil pasokan akan meningkat, sehingga harga cabai tidak lagi pedas.

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sukarman mengungkapkan, sebetulnya pasokan cabai secara nasional cukup memenuhi kebutuhan konsumen.

“Harus diakui, produksi cabai rawit Juli-Agustus tahun ini kurang optimal. Meskipun secara kumulatif nasional, jumlahnya masih cukup, tapi produksi lapangannya sangat terbatas. Kondisi di Pulau Jawa sebagai sentra utama produksi aneka cabai menunjukkan adanya kelebihan produksi dibanding kebutuhan seluruh Jawa,” ujar Sukarman, dalam keterangan tertulisnya Senin (19/8).

Kementan mencatat, total kebutuhan cabai rawit pada bulan Agustus, sebanyak 35.319 ton. Sedangkan produksinya mencapai 35.559 ton atau hanya terdapat selisih tipis 240 ton. “Jika melihat selisihnya cukup sih. Tapi memang riskan memicu fluktuasi harga di pasar,” ucap dia.

Kasubdit Cabai dan Sayuran Buah Kementan Mardiyah menambahkan, memasuki bulan September nanti pastikan cabai akan meningkat. “Memasuki September nanti produksi cabai rawit di pulau Jawa diperkirakan mencapai 37.598 ton. Selanjutnya memasuki bulan Oktober hingga Desember ditaksir semakin meningkat menjadi sekitar 50 ribu ton per bulan. Rata-rata kebutuhan cabai rawit se Jawa mencapai 34-35 ribu ton per bulan,” ujar Mardiyah.

Dengan melihat angka tersebut, pihaknya meyakini potensi produksi akan aman, yakni mencapai 14-16 ribu ton per bulan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar di wilayah Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Kendati demikian, Kementan pun tetap mewaspadai apabila harga kembali anjlok. (din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.