Pemerkosaan Anak Diperdalam

23
ilustrasi

BUNGURSARI – Kasus dugaan pemerkosaan seorang ayah, An (37) kepada anaknya, Edelweis—nama samaran—masih diselidiki Polres Tasikmalaya Kota (Polresta). Terlapor, hingga Rabu (6/2) masih dalam pencarian aparat.

Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Dadang Sudiantoro SH MH menerangkan pihaknya masih menyelidiki kasus pencabulan terhadap gadis berusia 15 tahun itu. Keberadaan, An sampai saat ini belum terlacak. Penyidik pun terus mengumpulkan informasi keberadaan terlapor. “Kita melakukan tindak lanjut,” katanya.

Dadan menyebutkan kasus dugaan pencabulan gadis asal Kawalu itu akan dinaikkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan secepatnya. Maka dari itu, pihak korban tidak perlu khawatir kasus tersebut terbengkalai. “Kita akan kirimkan SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Penyidikan) kepada pihak pelapor juga,” tuturnya.

Diwawancara terpisah, Ketua Manasix Asep Ugar menunda upayanya untuk datang ke Mapolres Tasikmalaya Kota. Hal itu karena dia memiliki keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. “Mungkin besok (hari ini) kita ke polres,” ucapnya.

Ditundanya rencana menemui perwira polres bukan berarti pihaknya melepaskan pengawalan terhadap kasus tersebut. Dia berkomitmen akan mendorong kepolisian sampai pelaku bisa ditangkap. “Tetap kita akan mendorong supaya pelaku bisa ditangkap,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, warga Kawalu melaporkan kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang ayah berinisial An (37) kepada anaknya pada November lalu. Namun, sampai saat ini An masih dalam pelarian dan belum diproses secara hukum.

Adapun kasus pencabulan tersebut muncul saat Edelweis—nama samaran—mengadu kepada guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya. Gadis berusia 15 tahun itu mengaku menjadi korban kekerasan seksual sejak dia duduk di kelas VII sekitar dua tahun lalu.

Pihak sekolah pun menindaklanjutinya dengan berkoordinasi dengan ibu korban. Akhirnya kasus itu pun dilaporkan ke Mapolres Tasikmalaya Kota pada September lalu. Akan tetapi, An langsung kabur dari rumah dan tak kunjung pulang.

Guru BK korban, Erni menga­takan bahwa Edelweis bercerita kejadian pertama dilakukan ayahnya saat dia sedang tertidur. Dia yang masih anak-anak tidak bisa melawan. Bahkan, aksi bejat pelaku tergolong tidak normal. “Sampai korban itu diikat dan mendapat kekerasan,” tuturnya, Jumat (1/2). (rga)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.