Pemkab Garut Dorong Pengembangan Kopi Lokal

63
0
CEK LOKASI. Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman mengecek lokasi penanaman kopi di Gunung Jampang Kecamatan Pakenjeng Minggu (27/9). Yana Taryana / Rakyat Garut

TAROGONG KIDUL – Pemerintah Kabupaten Garut terus mendorong peningkatan produksi kopi lokal Garut. Hal itu karena kopi Garut banyak diminati, baik dalam negeri maupun luar negeri.

“Sekarang kopi Garut sudah banyak diekspor ke beberapa negara. Jadi kopi ini sangat menjanjikan untuk para petani,” ujar Wakil Bupati Garut dr Helmi Budiman kepada wartawan, Minggu (27/9).
Menurut dia, saat ini beberapa kota besar di tanah air, seperti Bandung dan Jakarta banyak meminati kopi asli Garut. Salah satunya yang diolah menjadi kopi wine.

Baca juga : Petugas Kebersihan Garut Terima 500 Paket Sembako

“Kopi wine ini memiliki kualitas rasa tersendiri yang berbeda dibandingkan dengan jenis kopi diproses biasa. Jadi banyak diminati,” terangnya.

Pemkab Garut dalam hal ini Dinas Pertanian pun terus mendorong supaya kopi wine bisa dikembangkan terus, sehingga produksinya akan semakin banyak.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengakui permintaan kopi wine dari kota-kota besar terus meningkat.

“Permintaan untuk kopi yang diproses dengan proses wine dan natural cukup tinggi,” katanya.

Ia menuturkan sejumlah kelompok petani kopi di Garut sudah memiliki kemampuan khusus dalam mengolah kopi, salah satunya diproses secara wine dari jenis kopi arabika berkualitas yang dipetik di lahan pegunungan Garut.

Hampir seluruh kedai kopi di Garut, kata dia, saat ini sudah menyediakan kopi tersebut. Bahkan beberapa kedai kopi di kota besar seperti Bandung dan Jakarta juga menyajikan kopi wine.

Menurut Ardhy, mereka yang selama ini menikmati kopi wine mengaku rasanya berbeda dengan jenis kopi yang diproses biasa, yakni aroma buah kopi dan tingkat keasamannya lebih kuat. “Fruity dan acidity-nya lebih kuat dibanding kopi biasa,” terangnya.

Ia mengatakan kopi wine yang memiliki cita rasa tersendiri itu dijual dengan harga tinggi dibandingkan kopi proses biasa, yakni wine dalam bentuk green bean seharga Rp 160 ribu sampai Rp 180 ribu per kg, sedangkan roast bean seharga Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per kg.

Selama ini, lanjut dia, petani kopi baru mampu memproduksi secara terbatas. Hanya 3 sampai 5 ton setiap bulan per kelompok atau sekitar 30 sampai dengan 50 ton untuk satu musim yang hanya dilakukan oleh beberapa kelompok tani.

“Ya perkiraan 30 sampai dengan 50 ton untuk satu musim karena hanya beberapa kelompok saja yang menguasai tekniknya,” katanya.

Ia menyampaikan proses kopi wine membutuhkan keahlian khusus, bahkan proses dari mulai pemilihan biji kopi sampai pengeringan hingga siap seduh kurang lebih sekitar 1,5 bulan.
Produksi kopi wine di Garut, lanjut Ardhy, masih membutuhkan dorongan modal serta sarana dan prasarana untuk bisa memproduksi secara besar-besaran yang nantinya bisa memberikan keuntungan untuk petaninya.

“Kalau untuk permodalan kita arahkan untuk difasilitasi melalui Kredit Usaha Rakyat, sedangkan sarana penunjangnya kita upayakan melalui bangunan pengering,” terangnya.

Menurut dia, berdasarkan data dari Asosiasi Petani Kopi (Apeki) Kabupaten Garut mencatat saat ini ada 60 kedai kopi tersebar di beberapa tempat kawasan perkotaan maupun pelosok Garut.

Baca juga : 6 Wilayah di Garut Berlakukan PSBM 2 Minggu, Efektif Tekan Penularan Covid-19

Dengan bermunculannya kedai kopi di Garut menjadi peluang pasar bagi petani kopi, sehingga kesejahteraannya terus meningkat.

“Kondisi ini merupakan peluang pasar yang sangat menggembirakan bagi para pekebun kopi di Kabupaten Garut, hal ini menandakan bahwa kopi sudah sangat digemari oleh para kaum milenial saat ini,” paparnya. (yna)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.