Beranda Info Dewan Pemkot Cari Formula Atasi Gubuk

Pemkot Cari Formula Atasi Gubuk

134
BERBAGI
PRIHATIN. Pasangan lansia Uli dan Engkar tinggal di gubuk reyot di RW 09 Kampung Gunungjambu Kelurahan Tugujaya Kecamatan Cihideung, Senin (26/2). (firgiawan / Radar Tasikmalaya)

CIHIDEUNG – Anggota DPRD Kota Tasikmalaya H Dayat Mustofa terjun langsung ke gubuk milik Uli dan Engkar di belakang SD Negeri 2 Tugu Selasa (27/2). Sebagai anggota legislatif dirinya mengaku prihatin atas kondisi pasangan suami istri (pasutri) lansia itu.
Menurutnya, pemerintah terkesan lambat sehingga baru mengetahui hal tersebut dari media massa. Padahal apabila pemerintah saat pendataan memiliki respons yang cepat, maka tentu persoalan tersebut bisa diselesaikan hingga tidak menahun. “Kebetulan saya baru tahu di wilayah ini dan lokasinya dekat rumah. Maka langsung meninjau ke lokasi untuk memastikan kondisinya seperti apa,” ujarnya di sela memberi bantuan berupa beras dan mi instan serta santunan, Selasa (27/2)
Politisi Golkar ini mengatakan apabila peran RT/RW dan pihak kelurahan optimal, tentu persoalan warga miskin tidak memiliki lahan untuk tempat tinggal bisa dipikirkan solusinya dengan cepat. “Kalau sulit kan bisa komunikasi dengan kami (DPRD) nanti bisa diperjuangkan, Pemkot yang mengeksekusinya. Kami prihatin kondisi hujan petir angin seperti ini sementara Uli dan Engkar hanya tinggal di gubuk,” tuturnya.
Dia mengaku siap memperjuangkan persoalan tersebut apabila Pemkot sebagai eksekutor juga siap dan responsif. Sehingga tidak lagi ditemukan kondisi rumah kumuh khususnya di wilayah perkotaan.
Uli mengaku terharu saat dikunjungi H Dayat, anggota DPRD dari wilayahnya. Dia bersyukur dapat bantuan meski belum memecahkan solusi atas keinginannya memiliki sebidang lahan untuk dibangun rumah permanen.
“Alhamdulillah saya bersyukur ada yang sudah peduli. Kalaupun nanti mau dibantu diberi lahan, harapannya tidak keluar dari wilayah Cipicung,” tanggapnya.
Diwawancarai terpisah, Wakil Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf meng­akui saat ini belum ada regulasi yang membolehkan Pemkot lakukan pem­bebasan dan dijadikan lahan bagi warga kurang mampu. Namun dia akan berupaya mendorong corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan agar bisa turut serta memecahkan persoalan tersebut.
“Memang tidak ada regulasinya, itu yang jadi kendala rumah tidak layak huni tapi dibangun di lahan bukan milik pribadi kan tidak bisa dibantu,” paparnya.
Di sisi lain, kata dia, perlu dilakukan pendataan kembali terkait kasus yang menimpa pasangan Uli serta Engkar. Sebab tidak menutup kemungkinan di wilayah lain masih ditemukan persoalan yang sama. “Harus verifikasi lagi kemudian diinventarisir persoalan yang sama. Kemudian dicari solusi misal dengan menggunakan CSR perusahaan dalam membebaskan lahannya, kemudian Pemkot membantu dari sisi pembangunan rumahnya,” ujar Yusuf. (igi)

Facebook Comments

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.