Pemkot Kaji Bangun PDAM

130
0
H Ivan Dicksan Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya

TASIK – Pemerintah Kota Tasikmalaya sudah memikirkan solusi jangka panjang untuk menangani kekeringan dampak kemarau. Termasuk membangun perusahaan daerah air minum (PDAM) mandiri milik Pemkot.

Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya H Ivan Dicksan menyebut opsi membangun jaringan PDAM sudah dirancang sejak beberapa tahun terakhir. Di mana PDAM nantinya bakal memanfaatkan sumber daya alam yakni Ciwulan dan Citanduy.

“Sudah ada kajian di Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perwaskim),” tuturnya kepada Radar, Rabu (12/6).

Menurutnya, PDAM nantinya memanfaatkan potensi Sungai Ciwulan dan Citanduy, sehingga bisa dialirkan terhadap masyarakat, terutama ketika menghadapi musim kemarau di wilayah rentan kesulitan air bersih.

“Itu menjadi salah satu opsi jangka panjangnya. Kami pun memikirkan langkah antisipatif, di samping penanganan ketika kekeringan sudah terjadi,” terangnya.

Ivan menjelaskan pihaknya juga sudah memikirkan untuk membangun embung atau kolam retensi. Jadi ketika musim penghujan tiba, embung tersebut bisa menampung cadangan air. Dengan begitu, ketika kemarau melanda Kota Tasikmalaya, air di embung bisa digunakan warga.

“Kita juga sedang berpikir apakah dengan membebaskan lahan untuk membuat embung. Tetapi masih harus dikaji lebih serius sebab anggarannya tentu besar. Kemudian lokasinya harus di mana,” ucap Ivan memaparkan.

Pemkot juga melaksanakan program pembebasan bukit yang berpotensi sebagai resapan air. Meski diakuinya saat ini, alokasi anggaran untuk program tersebut terbilang belum optimal.

“Ke depannya harus didorong lagi, memang harus terus dioptimalkan. Kita akan bahas dengan DPRD apakah tahun selanjutnya bisa ditambah atau bagaimana,” kata dia.

Saat ini, kata dia, bukit yang dibebaskan setiap tahunnya merupakan hasil kajian dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Di mana bukit tersebut merupakan lahan yang berpotensi menyimpan cadangan air.

“Di dinas sendiri sudah ada kajian, bukit mana saja yang harus dilakukan pembebasan karena berpotensi menjadi penyimpanan air. Kemarin itu baru sekitar Rp 1 miliaran per tahunnya,” katanya.

Termasuk program pembuatan resapan air, dengan memperbanyak biopori di titik tertentu, sehingga volume air tanah bisa tetap stabil.

Pada intinya, kata Ivan, Pemkot juga terus melakukan upaya supaya cadangan air tanah bisa tetap memadai. Hanya saja, saat ini masih dilakukan secara bertahap.

“Kita juga berupaya memenuhi aturan pusat, di mana persentase lahan pembangunan, ruang terbuka dan kawasan hijau harus sesuai aturan. Kita akan gencarkan lagi penghijauan, karena akar pohon mampu menahan air,” tandasnya.

Anggota Komisi III DPRD Kota Tasikmalaya Wahid, sebelumnya, memahami urusan cuaca tidak bisa diprediksi secara tepat. Namun, antisipasi tetap harus dilaksanakan apalagi kejadiannya merupakan siklus tahunan.

“Kemarin saat Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di Tamansari, kami menyampaikan bahwa prioritas utama kecamatan itu urusan air bersih. Bagaimana Pemkot melakukan upaya antisipatif sehingga krisis air bisa diminimalkan,” ujarnya kepada Radar, Selasa (11/6).

Dia mengapresiasi langkah pendistribusian air bersih dari Pemkot melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan kelompok masyarakat, perusahaan dan instansi lainnya, namun itu sifatnya bukan solusi jangka panjang.

“Nah itu bukan pencegahan. Jadi bagaimana supaya tahun-tahun selanjutnya tidak terjadi kembali atau minimalnya tidak parah,” tuturnya.

Mantan aktivis PMII itu tidak menampik selama ini sudah ada program pemerintah mau pun pokok pikiran (pokir) DPRD yang dialokasikan untuk membangun infrastruktur, semacam sumur bor. Terutama di wilayah yang rentan kekeringan, supaya meminimalkan kelangkaan air bersih bagi masyarakat.

“Meski itu sudah dilakukan baik oleh Pemkot mau pun kami DPRD sendiri. Tetapi kita akui jumlahnya belum banyak,” kata dia menerangkan.

“Justru sumber-sumber air yang harus mulai di-maintenance (pemeliharaan, Red). Sebab, pembangunan infrastruktur seperti sumur bor tetap saja kering apabila kemarau panjang,” jelas Wahid melanjutkan.

Maka, kata dia, perlu adanya peningkatan atau upaya pemanfaatan sumber air yang ada di titik tertentu dalam menghadapi kemarau. Ia mencontohkan di Kelurahan Setiawargi Kecamatan Tamansari, terdapat sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan warga dalam memenuhi kebutuhan air.

“Coba itu diperbaiki supaya bisa ditingkatkan atau aksesnya mudah sehingga bisa terdistribusi saat masyarakat memerlukan,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Wahid, air yang didapat dari sumber itu ditampung dalam torn besar. Dengan demikian, air itu bisa digunakan masyarakat di waktu urgen seperti kemarau.

“Kami juga mendorong Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) supaya bisa menjangkau titik-titik yang rentan kekurangan air bersih. Di Tamansari saja, setahu kami Kelurahan Setiawargi, Tamansari dan Tamanjaya belum ter-cover pipa,” ucap Ketua Karang Taruna Tamansari itu. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.