Pemkot Tasik Kesulitan Atasi Merebaknya Kasus HIV/AIDS

83
0
SCREENING. Petugas medis saat melakukan screening dini HIV/AIDS terhadap ibu hamil di Puskesmas Indihiang, Selasa (1/12). Firgiawan / Radar Tasikmalaya
Loading...

TAMANSARI – Pemerintah Kota Tasikmalaya mengalami kendala serius dalam upaya pengendalian penyebaran HIV/AIDS di masyarakat. Sebab, bukan perkara mudah untuk mencegah penularan yang notabene terjadi melalui perilaku orang per orang.

Plt Wali Kota Tasikmalaya H Muhammad Yusuf mengakui saat ini pihaknya terus meluaskan jangkauan terhadap kelompok yang berisiko tinggi terjangkit HIV/AIDS.

Apalagi tren belakangan ini, tidak hanya terkoptasi terhadap pengguna narkotika yang menggunakan jarum suntik sama, tetapi mulai didominasi perilaku Lelaki Suka Lelaki (LSL).

“Bisa dikatakan cukup banyak itu dari tren baru yakni LSL. Secara kumulatif saat ini kasus terjadi di angka 788. Ini bisa diobati, kalau dibiarkan bisa mematikan,” katanya kepada wartawan, Selasa (1/12).

Dia menjelaskan selama tiga tahun terakhir nyaris terjadi penambahan di kisaran 15-20 orang per tahun. Rata-rata, kasus baru ditemukan dampak dari pergaulan bebas terutama perilaku menyimpang LSL yang kasat mata.

Loading...

Baca juga : Usai Ngambil Madu Odeng, Buruh Meninggal di Warung di Urug Kawalu Kota Tasik

“Kalau waria kelihatan kan cara berpakaiannya, kalau LSL tidak nampak. Belum lagi kalau ia tak ada keluhan dan tidak mau periksa, itu kendala tersendiri bagi kami dalam menanggulangi penyebaran ini,” terang Yusuf yang juga Ketua Pokja Komisi Penang­gulangan AIDS (KPA) Kota Tasikmalaya.

“Kita terus mentracking, melakukan pendekatan terhadap penderita termasuk menganjur­kan pengobatan. Tetapi, harus ada kemauan juga dari penderitanya. Kita sebatas mengajak dan mengimbau agar mereka mau menjalani perawatan,” sambungnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uus Supangat menjelaskan dari akumulasi 788 kasus, hanya 620 saja yang mau mengikuti perawatan dan pengobatan. Di sisi lain, pihaknya mengestimasi penderita yang ada di Kota Resik bisa tembus di angka 1.200 dan hanya sebagian saja yang terjangkau.

“K­ita tidak mudah masuk ke komunitas itu (LSL, Red) terkadang mereka sangat esklusif, karena perlu pendekatan, membangun trust, dirangkul. Kemudian setelah itu baru kita anjurkan diperiksa, saat dia ketahuan positif anjurkan juga supaya rutin melakukan pengobatan. Ini butuh kerja keras bersama,” kata Uus.

Apalagi, kata dia, saat ini rute penyebaran HIV/AIDS tak lagi menyebar pada kelompok tertentu. Misalnya pengguna narkotika, atau penjaja seks komersil saja. Meluas melalui penyebaran dari LSL.

“Maka di momen hari AIDS ini, kami juga berupaya screening dini terhadap masyarakat, diutamakan pemeriksaan pada ibu hamil. Hari ini serentak dilakukan di semua Puskesmas se-Kota Tasikmalaya sebagai keseriusan kita, di samping sedang konsen penanggulangan Covid-19 dan persoalan kesehatan lainnya,” papar Uus.

Menurutnya, masyarakat bisa turut melakukan pencegahan salah satunya dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kemudian bagi kelompok yang rentan penularan, terkait dengan LSL, Wanita Pekerja Seksual (WPS), diharapkan menggunakan alat pengaman ketika menjalankan aktivitas.

“Bukan berarti kita support perilaku seperti itu, karena itu upaya mencegah risiko penularan. Utamanya, aspek rohani dibutuhkan supaya sentuhan-sentuhan dalam penyuluhan bisa lebih fundamental apabila kelompok yang rentan mendapatkan penyuluhan dari agamawan berkaitan perilaku dan pola yang tidak sehat,” analisisnya.

Dia menambahkan masyarakat pun dewasa ini mulai menyudahi stigma kurang baik dan deskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS. Sebab, mereka pun berhak mendapat layanan kesehatan untuk pengobatan infeksinya.

“Bila perlu dirangkul supaya mereka bisa dibantu agar tak enggan memeriksakan, menjalani pengobatan, termasuk konseling psikologis,” kata dia. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.