Pemkot Tasik tak Punya Mesin PCR untuk Covid-19, Ini Kata Budi..

629
0

KOTA TASIK – Berbeda dengan Kabupaten Garut, hingga kini Pemerintah Kota (Pemkot) Tasik tak kunjung memiliki alat uji virus Corona, Polymerase Chain Reaction (PCR).

Alat ini bisa mempercepat untuk mengetahui apakah sample pasien tersebut positif atau negatif Covid-19.

Sehingga, tim Gugus Tugas tak perlu menunggu waktu 12 hari untuk mengetahui hasilnya.

Karena selama ini untuk mengetahui hasil uji lab tersebut samplenya harus diperiksa di laboratoirum Dinkes Provinsi Jawa Barat.

Wali Kota Tasik, Budi Budiman berharap segera memiliki mesin PCR, yaitu alat pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus termasuk mendiagnosis penyakit virus Covid-19, dengan mendeteksi material genetik virus Corona.

Hal ini harus terwujud setelah beberapa kali terjadi keterlambatan hasil diagnosa sampel tes swab covid -19 oleh tingkat provinsi maupun pusat yang bisa menyebabkan terlambatnya penanganan pasien covid di Kota Tasik.

“Saya kira memang kita sudah harus memiliki mesin PCR ini, apalagi dalam beberapa kasus kita cukup kesulitan menangani pasien covid akibat terlambatnya diagnosa hasil tes swab covid -19,” ujar Budi kepada radartasikmalaya.com, Kamis (16/07) siang.

Terang Budi, jika hasil diagnosis atau pengecekan lebih cepat, maka pihaknya akan lebih mudah mendeteksi termasuk mengisolasi pasien covid -19.

Seperti kasus tenaga medis RSUD dr Soekardjo, pihaknya sempat kesulitan mendeteksinya.

“Karena setelah 12 hari baru keluar hasilnya. Namun, Alhamdulillah semuanya negatif covid -19. Tapi kan kita bisa lebih cepat dari itu kalau memiliki alatnya,” terangnya.

Tambah Budi, mengapa hal itu belum terwujud karena tidak mudah memilikinya.

Jadi bukan hanya dari sisi harga yang cukup mahal akan tetapi harus mengantongi izin dari kementrian kesehatan.

“Percuma kan walaupun kita mampu beli tapi izinnya tidak ada, ya tetap alat tersebut tidak bisa digunakan. Izinnya itu yang sulit didapat,” tambahnya.

Jelas Budi, menyikapi keadaan seperti ini yang masih terus terjadi, pihaknya meminta kepada pemerintah pusat dalam hal ini kementrian kesehatan, agar setiap daerah kota maupun kabupaten bisa memiliki minimal satu alat PCR.

“Dengan memiliki alat PCR, dalam 1x 24 jam kita sudah bisa mendapatkan hasilnya dan itu akan menjadi kunci keberhasilan gugus tugas di daerah untuk memutus mata rantai penyebaran covid -19,” jelasnya.

(rezza rizaldi)

Loading...
loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.