Enam Hari Diberlakukan Lalu Direvisi

Pemkot Tasik Tertibkan Jalan Menggunakan Tarif Parkir

55
0
Loading...

TASIK – Kepala Bagian Hukum Setda Kota Tasikmalaya Agus Iwan mengatakan Pemkot tengah mengkaji kembali kaitan penerapan tarif parkir yang diatur Perwalkot Nomor 51 Tahun 2019. Hal itu sebagai bentuk respons atas adanya reaksi masyarakat dari berbagai kalangan.

“Sudah dikaji ulang. Pak Wali memerintahkan kami untuk melaksanakan kajian tentang Perwalkot Kenaikan Tarif Parkir, Alhamdulillah hari ini sudah dilaksanakan, semoga pemberlakuan bisa secepatnya efektif besok (hari ini, Red),” ucap Kepala Bagian Hukum Setda Kota Tasikmalaya Agus Iwan usai menghadiri audiensi di Ruang Rapat Komisi kepada wartawan, Senin (6/1).

Menurutnya, gambaran perubahan pada aturan tersebut, yakni kenaikan tarif parkir pada ruas jalan umum tertentu kendaraan roda dua yang semula Rp 3.000 menjadi Rp 2.000. Kendaraan roda empat semula Rp 4.000 menjadi Rp 3.000.

“Jalan umum tertentu seperti HZ Mustofa, Yudanegara dan lingkaran seputar pusat kota saja, totalnya ada 11 ruas. Kalau jalan umum bukan tertentu, tarifnya beda lagi dan itu lebih rendah,” kata Agus.

Sementara pada audiensi tersebut, ia menceritakan berdasarkan kajian Dinas Perhubungan (Dishub) tarif parkir sudah 11 tahun tidak mengalami penyesuaian. Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum, mengamanatkan bahwa pengaturan tarif diatur oleh Perwalkot.

“Substansinya sudah dibahas saat itu oleh Pemkot dan DPRD pada Tahun 2011. Penentuan lokasi, jalan tertentu, jalan umum bukan tertentu. Diamanatkan untuk diatur melalui Perwalkot,” tuturnya memaparkan.

Mantan Kepala Bidang Fisik Bappelitbangda tersebut menjelaskan ada dua hal yang perlu dicermati pada pengguliran kebijakan tarif parkir. Sebetulnya, kata dia, kenaikan tarif bukan semata menggenjot kenaikan penghasilan asli daerah (PAD) di jalan tertentu. Tetapi, lebih terhadap penertiban arus lalu lintas di jalan utama seperti sepanjang HZ Mustofa mulai dari Masjid Agung sampai Simpang Padayungan yang terbilang padat dan semrawut.

Loading...

“Diharapkan dengan seperti itu, orang enggan parkir di HZ Mustofa, substansi dan ruhnya di sana,” kata dia.

“Sebab, Pemkot saat ini belum memiliki kantung parkir representatif. Jalur utama diharapkan tertib melalui tarif yang terbilang tinggi. Orang akan segan parkir karena mahal,” lanjut Agus. (igi)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.